Sabtu, 08 Januari 2011

materi



dPertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD)
Latar     Belakang 
B-GELS   atau      dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Pertolongan Pertama Pada Gawat
Darurat (PPGD) adalah serangkaian usaha-usaha pertama yang dapat dilakukan pada
kondisi gawat      darurat  dalam    rangka   menyelamatkan  pasien   dari       kematian. Di luar negeri, PPGD ini sebenarnya            sudah    banyak   diajarkan            pada      orang-orang        awam    atau orang-orang awam khusus,     namun   sepertinya            hal        ini         masih    sangat    jarang    diketahui            oleh      masyarakat         Indonesia.
Pertolongan Pertama Gawat Darurat merupakan kepanjangan dari PPGD. PPGD dilakukan jika seseorang dalam keadaan darurat, seperti patah tulang, pingsan, terluka, dan lain-lain. Melakukan PPGD akan kita bahas satu persatu disini. Yang dibahas di sini adalah PPGD dasar.
1. PATAH TULANG
Patah tulang dapat terjadi karena berbagai sebab, seperti terjatuh, terpukul, dan lain-lain. Patah tulang dapat terjadi pada tulang belakang, tulang paha, tulang betis(tungkai bawah), tulang lengan atas, tulang lengan bawah, tulang selangka, tulang rusuk, dan lain-lain. Untuk mengatasi patah tulang kita dapat melakukan pembidaian. Alat-alat yang diperlukan antara lain:
- Bidai. Bidai adalah suatu papan dengan ukuran tertentu yang berguna untuk menyangga kedua sisi organ yang patah.
- Pembalut. Berguna untuk mengikat, dan membalut bagian yang patah. Biasanya berupa kain khusus yang bersih dan steril.


A. Mengatasi Patah Tulang Tungkai Bawah
- Penolong memberitahu korban bahwa akan dilakukan pembidaian.

- Penolong memaparkan bagian yang cedera dan merawat perdarahan yang ada.
- Penolong memeriksa GSS(Gerak, Sensasi, Sirkulasi). Gerak dapat diperiksa dengan meminta korban untuk menggerakkan anggota tubuhnya(misal menggerakkan ibu jari), sensasi dapat diperiksa dengan menekan kulit korban(dalam bahasa jawa "njiwit"), dan sirkulasi dapat diperiksa dengan menekan kuku korban lalu melepasnya sambil melihat kecepatan berubahnya kuku menjadi merah kembali(normalnya sekitar 2 detik).
- Penolong lain menyiapkan bidai dan pembalut yang sesuai
- Pembalut dimasukkan melalui celah-celah anatomi, yaitu celah-celah yang terdapat pada kaki.
- Bidai diletakkan pada kedua sisi tungkai yang cedera.
- Bidai diikat dengan keadaan tidak terlalu kencang dan tidak terlalu kendur.
- Untuk mengurangi pergerakan, kaki yang cedera diikatkan dengan kaki yang sehat dengan menggunakan simpul 8(khusus untuk patah tulang tungkai bawah).
- Penolong memeriksa GSS kembali untuk dibandingkan dengan pemeriksaan pertama.
- Penolong merujuk korban ke tenaga medis terdekat.

B. Mengatasi Patah Tulang Lengan Bawah
- Penolong memberitahu korban bahwa akan dilakukan pembidaian.
- Penolong meminta korban untuk duduk supaya tenang atau rileks.
- Penolong memaparkan bagian yang cedera dan merawat perdarahan yang ada.
- Penolong memeriksa GSS.
- Penolong lain menyiapkan bidai dan pembalut yang sesuai.
- Bidai diletakkan pada kedua sisi yang cedera(posisi lengan menekuk dan bidai diletakkan pada bagian atas dan bawahnya). Penolong meminta korban untuk menyangga bidai tersebut. 
- Bidai diikat dengan keadaan tidak terlalu kendur dan tidak terlalu kencang.
- Pembalut/kain diikatkan melingkari leher sebagai penopang lengan agar tidak bergerak.
- Penolong memeriksa GSS kembali untuk dibandingkan dengan pemeriksaan pertama.
- Penolong merujuk korban ke tenaga medis terdekat.


Adapun tujuan pembidaian adalah untuk mencegah pergeseran atau pergerakan tulang yang patah, mempercepat proses penyembuhan, mencegah infeksi dan mengurangi rasa sakit.


2. PINGSAN
Adapun cara mengatasi pingsan sebagai berikut:
- Penolong membawa korban ke tempat teduh dan aman.
- Korban dibaringkan dengan laki yang ditinggikan lebih tinggi daripada jantung kurang lebih 15 cm.
- Untuk mempercepat sadarnya korban, korban diberi wangi-wangian aromaterapi.
- Setelah siuman atau sadar, korban dibiarkan istirahat terlebih dahulu. Bila perlu memberinya air mineral untuk menyegarkan badan.
- Namun bila tidak kunjung sadar, korban dirujuk ke tenaga medis terdekat.


3. PERDARAHAN LUAR
- Bagian yang luka diposisikan lebih tinggi daripada jantung
- Bagian yang luka ditutup oleh kain bersih/kasa steril untuk menghentikan perdarahan.
- Bila perlu, tekan pembuluh nadi atasnya untuk mempercepat berhentinya perdarahan.
- Jika perdarahan telah berhenti, penolong membersihkan luka dan memberinya antiseptik.
- Luka ditutup atau dibalut dengan kain atau kasa bersih dan steril.
- Jika perlu rujuk ke tenaga medis terdekat.
in
Sedangkan kebutuhan kalorinya berbeda beda tiap kegiatan, semakin berat tingkat aktivitasny
Algortima Dasar Pertolongan Pertama pada Gawat Darurat

a. Ada pasien tidak sadar
Terkadang di jalan ada beberapa orang yang tergeletak di jalan begitu saja. Mereka mungkin memerlukan bantuan Anda. Jika hal itu terjadi maka Anda harus menolong mereka. Hal yang bisa Anda lakukan adalah menghubungi orang terdekat untuk juga menolong mereka.

b. Pastikan  kondisi  tempat  pertolongan  aman  bagi pasien dan penolong
Setelah Anda memberitahukan kepada lingkungan kalau Anda akan berusaha menolong, maka pindahkan pasien ke tempat lain. Tempat yang aman bagi pasien dan bagi penolong. Tempat yang aman bagi pasien dan penolong misalnya tempat yang tidak membahayakan. Misalnya jika orang yang perlu kita tolong berada di jalan, maka bawalah dia ke tempat yang lebih aman misalnya ke rumah penduduk setempat.

c.  Cek kesadaran pasien.
 Lakukan dengan metode AVPU, yakni :

A (Alert): Korban sadar jika tidak sadar lanjut ke poin V

V (Verbal): Cobalah memanggil-manggil korban dengan berbicara keras di telinga korban. Pada tahap ini jangan sertakan dengan menggoyang atau menyentuh pasien, jika tidak merespon lanjut ke P

P (Pain): Cobalah beri rangsang nyeri pada pasien, yang paling mudah adalah menekan bagian putih dari kuku tangan di pangkal kuku. Selain itu dapat juga dengan menekan bagian tengah tulang dada atau sternum dan juga areal di atas mata.

U (Unresponsive): Setelah diberi rangsang nyeri tapi pasien masih tidak bereaksi maka pasien berada dalam keadaan unresponsive.

d.  Call for Help.
Mintalah bantuan kepada masyarakat di sekitar untuk menelpon ambulans ( umumnya pada nomor telepon 118 ) dengan memberitahukan :

1.
 Jumlah korban
2. Kesadaran korban sadar atau tidak sadar.
3. Perkiraan usia dan jenis kelamin misalnya lelaki muda atau ibu tua.
4. Tempat terjadi kegawatan meliputi alamat yang lengkap yang mudah ditunjukkan.

e. Membuat Korban Senyaman Mungkin.
          Saat Anda sudah berusaha menelpon ambulan maka hal yang harus Anda lakukan adalah membuat nyaman pasien. Hal itu dapat dilakukan dengan cara bebaskanlah korban dari pakaian di daerah dada dengan membuka kancing baju bagian atas agar dada terlihat. Setelah itu posisikan diri di sebelah korban, usahakan posisi kaki yang mendekati kepala sejajar dengan bahu pasien.

f. Mengecek apa yang diderita korban.

Jika Ambulan tidak kunjung datang maka ceklah sendiri apakah ada tanda-tanda berikut :
1.

luka-luka dari bagian bawah bahu ke atas(supra darkula)
2.     

pasien mengalami tumbukan di berbagai tempat, misal terjatuh dari sepeda motor. berdasarkan saksi pasien mengalami cedera di tulang belakang bagian leher.

g. Mengartikan tanda-tanda yang diderita korban
          Tanda-tanda yang diderita korban misalnya terjadi luka pada tulang belakang bagian leher (cervical). Cedera pada bagian ini sangat berbahaya karena di sini terdapat. syaraf yang mengatur fungsi vital manusia yakni nafas dan denyut jantung. Jika Anda bisa menanganinya maka Anda dapat mencobanya. Namun jika tidak maka Anda tidak perlu melakukan apapun. Anda tinggal menunggu ambulan atau Anda meminta tolong yang lain bisakah merawat apa yang diderita korban.
Jika tidak ada tanda-tanda cedera tersebut maka lakukanlah Head Tilt and Chin Lift. Chin lift dilakukan dengan cara menggunakan dua jari lalu mengangkat tulang dagu ke atas. Ini disertai dengan melakukan Head tilt yaitu menahan kepala dan mempertahankan posisi. Ini dilakukan untuk membebaskan jalan nafas korban.
JiKa ada tanda-tanda tersebut, maka beralihlah ke bagian atas pasien, jepit kepala pasien dengan paha, usahakan agar kepalanya tidak bergerak-gerak lagi (imobilisasi) dan lakukanlah Jaw Thrust. Gerakan ini dilakukan untuk menghindari adanya cedera lebih lanjut pada tulang belakang bagian leher pasien.

h. Melakukan Pemeriksaan
          Sambil melakukan treatment di atas, lakukanlah pemeriksaan kondisi jalan nafas dan pernafasan pasien.

i. Metode pengecekan menggunakan metode look, listen and feel.
Look : Lihat apakah ada gerakan dada yakni gerakan bernafas, apakah gerakan tersebut simetris atau tidak.
Listen : Dengarkan apakah ada suara nafas normal, dan apakah ada suara nafas tambahan yang abnormal. Nafas tambahan yang abnormal bisa timbul karena ada hambatan sebagian.

j. Periksalah jalan nafas
          Periksalah jalan nafas pasien. Jika ternyata pasien masih bernafas, maka hitunglah berapa frekuensi pernafasan pasien itu dalam 1 menit. Pernafasan normal adalah 12-20 kali permenit.

k. Periksa kembali nada karotis
          Anda perlu mengecek kembali nadi karotis. Ini dilakukan dengan metode seperti di atas selama 10 detik, jika teraba lakukan look listen and feel lagi. Jika tidak teraba ulangi lagi.

l. Setelah berhasil mengamankan kondisi diatas periksalah tanda-tanda shock pada pasien :
          Denyut nadi > 100 kali per menit Telapak tangan basah dingin dan pucat Capilarry Refill Time > 2 detik. CRT dapat diperiksa dengan cara menekan ujung kuku pasien dengan kuku pemeriksaan selama 5 detik, lalu lepaskan, cek berapa lama waktu yang dibutuhkan agar warna ujung kuku merah lagi.

m. Jika pasien shock, lakukan shock position pada pasien,yaitu dengan mengangkat kaki pasien setinggi 45 derajat dengan harapan sirkulasi darah akan lebih banyak ke  jantung.

n. Pertahankan posisi shock sampai bantuan datang atau tanda-tanda shock   menghilang.

o. Jika ada pendarahan pada pasien, cobalah hentikan pendarahan dengan cara menekan atau mengikat luka. Dalam mengikat jangan terlalu erat karena dapat mengakibatkan jaringan yang diikat mati

p. Setelah kondisi pasien stabil, tetap monitor selalu kondisi pasien dengan look, listen and feel, karena pasien sewaktu-waktu dapat memburuk secara tiba-tiba.


LUKA BAKAR 
          Mungkin yg ada di benak anda, luka bakar itu adalah luka yg timbul akibat kobaran api. Itu tidak sepenuhnya salah. Namun, saya akan memberikan definisi yg lebih lengkap. Luka bakar adalah kerusakan kulit ( dan jaringan di bawahnya) karena perubahan suhu yg berat dalam jaringan akibat panas api, cairan panas, uap panas, benda panas, bahan kimia, aliran listrik, dll. Jadi luka bakar bukan hanya disebabkan oleh kobaran api. 
Kunci penanganan luka bakar adalah kebersihan. Dengan mengolesi luka dengan kecap, mentega atau pasta gigi justru akan semakin menutup luka dan mengotorinya. 

Pertolongan Pertama: 
1. Segera lepas perhiasan dan pakaian yang menutupi kulit korban yang terbakar.
2. Bila tergolong ringan, siram luka dengan air dingin yang mengalir selama kurang lebih 20 menit. 
JANGAN direndam dan JANGAN menggunakan es. 
Setelah didinginkan, barulah luka boleh diolesi dengan krim luka bakar seperti Bioplasenton, dan ditutupi dengan balutan bersih. 
3. Bila luka bakar lumayan parah, mengenai alat kelamin atau banyak bagian tubuh: 
- Baringkan korban di ats karpet atau kain, jangan di lantai. JANGAN menyentuh daerah luka dan JANGAN memecahkan gelembung atau lepuhan, jika ada. 
- Tutupi bagian yang terbakar dengan kain bersih yang tidak berbulu. Bila kena mata, bilas dulu dengan air dingin selama 10menit, lalu Tutupi dengan kain steril. 
- Hubungi segera bagian gawat darurat atau bawa segera ke sarana medis terdekat. 

TERSENGAT LISTRIK 
- JANGAN langsung menarik korban ketika listrik masih mengaliri tubuhnya dengan alasan supaya cepat tertolong. 
- Putuskan dahulu aliran listrik dengan cara menekan tombol off di pusat listrik setempat (biasanya terdapat pada meteran PLN). 
- Lepaskan kabel dari stop kontak menggunakan tongkat kayu, keset karet, buku atau gulungan majalah atau Koran. Jangan menggunakan bahan pengantarlistrik, seperti logam atau air. 
- Selalu menggunakan alas kaki dari karet dan kering. 
Pertolongan Pertama: 
1. Bila pernapasan normal, baringkan penderita pada posisi penyembuhan (berbaring lurus). Lalu lakukan tahapan seperti menangani luka bakar di atas. 
2. Bla pernapasan terhenti, SEGERA hubungi bantuan medis, bisa juga dengan berteriak memanggil bantuan orang sekitar. Jika terlatih, bisa langsung melakukan langkah2 CPR (Cardio-Pulmonary Resuscitation) atau bantuan pernapasan dari mulut ke mulut. Namun jika tidak, segeralah bawa ke sarana medis terdekat. 

LUKA TERBUKA 
          Adanya perdarahan luar ditandai dengan adanya luka terbuka/ kulit terkoyak. 
Jika hanya merupakan luka gores, darah hanya merembes keluar. Yang lebih parah adalah perdarahan dari arteri atau vena, dimana darah mengalir deras atau memancar. Menempelkan sesuatu, apalagi yang kotor, pada luka yang terbuka justru akan memperparah keadaan. Bisa menimbulkan infeksi bakteri yang menyebabkan radang, demam, serta nanah. 

Pertolongan Pertama Luka Terbuka 
Jika lukanya tidak parah: 
- Cuci tangan bersih, lalu bersihkan luka dengan air mengalir. Keringkan dengan tisu atau kain bersih. 
- Bila terluka akibat serpihan gelas atau kayu, usahakan ambil serpihannya dengan pengait/pinset yang telah dibersihkan dan disteril terlebih dahulu. 
- Hentikan pendarahan dengan menekan permukaan luka dengan kain kasa selama beberapa detik. 
- Oleskan cairan antiseptik, seperti Betadyn. Jika lukanya kecil, tidak usah ditutup. 

Jika lukanya parah, yaitu jika darah mengalir deras atau memancar: 
- Lakukan 3TB : 
o Tekan luka yang terbuka dan berdarah 
o Tinggikan lengan maupun kaki yang terluka 
o Tekan titik arteri, jika perdarahan deras dan melibatkan perdarahan arteri. 
o Balut luka dengan pembalut elastis. 
- Segera hubungi pihak medis, atau langsung bawa korban ke sarana medis terdekat. 

TERSEDAK 
          Masuknya benda asing ke dalam saluran napas bisa terjadi pada saat makan, atau ketika anak memasukkan mainan ke dalam mulut. 

Pertolongan Pertama: 
- Jika terjadi sumbatan ringan, dimana korban masih bisa bersuara, anjurkan korban untuk batuk sekuatnya. 
- Jika terjadi sumbatan berat, yaitu jika korban tidak bisa berbicara sama sekali atau bernapas, maka lakukan: 
o 5x Abdominal Thrust (tekan perut). Lokasi tekan antara pusat dan uluhati. 
o Periksa mulut korban, bila benda asing belum terlihat, lanjutkan 5x Abdominal Thrust. 
o Jika tidak efektif, lakukan 5xTekan Dada dengan lokasi tekan sama seperti CPR, yaitu pada pertengahan tulang dada. 
- Jika korban sampai tidak sadar, segera panggil bantuan medis. 

GIGITAN SERANGGA 
          Serangga tidak akan menyerang kecuali kalau mereka digusar atau diganggu. Kebanyakan gigitan dan sengatan digunakan untuk pertahanan serangga untuk melindungi sarang mereka. Sebuah gigitan atau sengatan dapat menyuntikkan bisa(racun) yang tersusun dari protein dan substansi lain yang mungkin memicu reaksi alergi kepada penderita. Gigitan serangga juga mengakibatkan kemerahan dan bengkak di lokasi yang tersengat. 
Lebah, tawon, penyengat, si jaket kuning, dan semut api adalah anggota keluarga Hymenoptera. Gigitan atau sengatan dari mereka dapat menyebabkan reaksi yang cukup serius pada orang yang alergi terhadap mereka. Kematian yang diakibatkan oleh serangga 3-4 kali lebih sering dari pada kematian yang diakibatkan oleh gigitan ular. Lebah, tawon dan semut api berbeda-beda dalam menyengat. 
Ketika lebah menyengat, dia melepaskan seluruh alat sengatnya dan sebenarnya ia mati ketika proses itu terjadi. Seekor tawon dapat menyengat berkali-kali karena tawon tidak melepaskan seluruh alat sengatnya setelah ia menyengat. 
Semut api menyengatkan bisanya dengan menggunakan rahangnya dan memutar tubuhnya. Mereka dapat menyengat bisa berkali-kali. 

Gejala 
          Kebanyakan gigitan serangga menyebabkan kemerahan, bengkak, nyeri, dan gatal-gatal di sekitar area yang terkena gigitan atau sengatan serangga tersebut. Kulit yang terkena gigitan bisa rusak dan terinfeksi jika daerah yang terkena gigitan tersebut terluka. Jika luka tersebut tidak dirawat, maka akan mengakibatkan peradangan akut. 
Rasa gatal dengan bintik-bintik merah dan bengkak, desahan, sesak napas, pingsan dan hampir meninggal dalam 30 menit adalah gejala dari reaksi yang disebut anafilaksis. Ini juga diakibatkan karena alergi pada gigitan serangga. 
Gigitan serangga juga mengakibatkan bengkak pada tenggorokan dan kematian karena gangguan udara. 
engatan dari serangga jenis penyengat besar atau ratusan sengatan lebah jarang sekali ditemukan hingga mengakibatkan sakit pada otot dan gagal ginjal. 

Pertolongan Pertama : 
- Sengat lebah yang masih tertinggal harus dicungkil, jangan ditekan kedalam. Partikel-partikel dapat mengkontaminasi lebih lanjut jika sengat masih tertinggal. 
Gunakan kartu atau bagian belakang pisau untuk mencungkil sengat. JANGAN menggunakan pinset, karena malah akan menekan racun masuk ke dalam kulit. Bersihkan area yang terkena gigitan dengan sabun dan air untuk menghilangkan partikel yang terkontaminasi oleh serangga (seperti nyamuk). 
Hindari juga menggosok-gosok luka akibat sengatan atau gigitan, karena dapat berakibat racun semakin menyebar. 
Pengobatan tergantung pada jenis reaksi yang terjadi. Jika hanya kemerahan dan nyeri pada bagian yang digigit, cukup menggunakan es sebagai pengobatan, dengan cara dikompreskan ke luka selama 10 menit. 
Setelah didinginkan, dapat menggunakan antihistamin seperti diphenhidramin (Benadryl) dalam bentuk krim/salep atau pil. Losion Calamine juga bisa membantu mengurangi gatal-gatal. 
Jika gigitan menyebabkan infeksi (kemerahan dengan atau tanpa nanah, suhu tubuh tinggi, demam, atau kemerahan di tubuh), pergilah ke dokter. 
Jika tidak diketahui apa yang menggigit, sangat penting untuk menjaga area yang digigit agar tidak terjadi infeksi. Hubungi dokter jika ada luka yang terbuka, mungkin itu sengatan racun laba-laba. 

Seseorang yang mempunyai riwayat tergigit atau tersengat serangga harus pergi ke rumah sakit terdekat jika mendapati gejala lain. Sedang orang yang tidak mempunyai riwayat tergigit serangga juga harus ke bagian gawat darurat jika: 
1. Mendesah 
2. Sesak nafas 
3. Dada sesak atau sakit 
4. Tenggorokan sakit atau susah berbicara 
5. Pingsan atau lemah 
6. Infeksi 

MIMISAN 
          Mimisan (epitaksis) umumnya terjadi bila pembuluh darah dalam lubang hidung pecah akibat pukulan pada hidung, bersin kelewat keras, mengorek hidung, membuang lendir. Bisa juga karena iritasi atau keringnya lapisan selaput dalam hidung akibat lingkungan kering. 
Lingkungan kering bisa disebabkan karena penggunaan AC yang berlebihan. Mimisan juga bisa disebabkan faktor keturunan, yaitu pada anak2 yang lahir dengan pembuluh darah hidung yang rentan pecah. 

Pertolongan Pertama: 
          Dudukkan penderita dengan posisi condong ke depan. JANGAN menarik tubuh korban ke belakang, karena bisa membuat korban tersedak dan muntah2. 
Periksa, apakah ada benda asing dalam hidung, jika ya, maka keluarkan dengan hati-hati. 
Tekan/pencet hidung selama 10 menit, biarkan ia bernapas melalui hidung. 
Jika darah masih keluar, tekan kembali selama beberapa menit. Jika terus mengalir sampai setangah jam, langsung bawa ke sarana medis terdekat. 
Jika mimisan bisa dikendalikan, bersihkan hidung dan mulut dengan kain basah yang bersih.Selama 2 hari berikutnya, hindari membuang ingus dan mengorek hidung untuk menghindari terjadinya pendarahan kembali. Jangan beraktivitas di bawah matahari. 



o berikan nafas
Obat dan Peralatan
1. Obat-obatan
o Obat penghilang rasa sakit dan demam seperti aspirin, paracetamol, dll
o Obat sakit perut seperti new diatab, oralit, trisulfa, dll
o Obat keracunan seperti Norit
o Obat anti alergi seperti CTM
o Obat anti malaria seperti pil kina
o Obat flu dan batuk
o Obat tetes mata
o Alkohol
o Salep luka bakar
o Obat gosok seperti balsam, minyak kayu putih
o Krim pelindung kulit seperti Pabanox, Sunscream
o Krim anti memar seperti trombophop
o Chlor ethyl spra

 

4. MATERI PERTOLONGAN PERTAMA

 buatan bila korban tidak bernafasru-paru jika denyut nadi tidak ada kebakaran ).
DASAR PERTOLONGAN PERTAMA
Pertolongan Pertama
Pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit atau korban kecelakaan yang memerlukan penanganan medis dasar untuk mencegah cacat atau maut.

Tujuan Pertolongan Pertama
1.    Menyelamatkan jiwa penderita
2.    Mencegah cacat
3.    Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan
Sistem Pelayanan Gawat Darurat Terpadu
Dalam perkembangannya tindakan pertolongan pertama diharapkan menjadi bagian dari suatu sistem yang dikenal dengan istilah Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu, yaitu sistem pelayanan kedaruratan bagi masyarakat yang membutuhkan, khususnya di bidang kesehatan.
Komponen Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu:
1.    Akses dan Komunikasi
Masyarakat harus mengetahui kemana mereka harus meminta bantuan, baik yang umum maupun yang khusus.
1.    Pelayanan Pra Rumah Sakit
Secara umum semua orang boleh memberikan pertolongan.
Klasifikasi Penolong:
a. Orang Awam
Tidak terlatih atau memiliki sedikit pengetahuan pertolongan pertama
b. Penolong pertama
Kualifikasi ini yang dicapai oleh KSR PMI
c. Tenaga Khusus/Terlatih
Tenaga yang dilatih secara khusus untuk menanggulangi kedaruratan di Lapangan
1.    Tansportasi
Mempersiapkan penderita untuk ditransportasi
Dasar Hukum
1.    Persetujuan yang dianggap diberikan atau tersirat (Implied Consent)
Persetujuan yang diberikan pendarita sadar dengan cara memberikan isyarat, atau penderita tidak sadar, atau pada anak kecil yang tidak mampu atau dianggap tidak mampu memberikan persetujuan
1.    Pesetujuan yang dinyatakan (Expressed Consent)
Persetujuan yang dinyatakan secara lisan maupun tulisan oleh penderita.
Alat Perlindungan Diri
Keamanan penolong merupakan hal yang sangat penting, sebaiknya dilengkapi dengan peralatan yang dikenal sebagai Alat Perlindungan Diri antara lain :
a. Sarung tangan lateks
Pada dasarnya semua cairan tubuh dianggap dapat menularkan penyakit.
b. Kaca mata pelindung
Mata juga termasuk pintu gerbang masuknya penyakit kedalam tubuh manusia
c. Baju pelindung
Mengamankan tubuh penolong dari merembesnya carian tubuh melalui pakaian.
d. Masker penolong
Mencegah penularan penyakit melalui udara
e. Masker Resusitasi Jantung Paru
Masker yang dipergunakan untuk memberikan bantuan napas
f. Helm
Mencegah benturan di kepala ketika melakukan pertolongan.

Semua carian tubuh dianggap menular
Untuk mencegah penularan penyakit melalui cairan tubuh:
1. Mencuci Tangan
2. Membersihkan peralatan
v Mencuci
Membersihkan perlatan dengan sabun dan air
v Desinfeksi
Menggunakan bahan kimia seperti alkohol untuk membunuh bakteri patogen
v Sterilisasi
Proses menggunakan bahan kimia atau pemanasan untuk membunuh semua mikroorganisme.
3. Menggunakan APD

Kewajiban Pelaku Pertolongan Pertama
Dalam menjalankan tugasnya ada beberapa kewajiban yang harus dilakukan :
a. Menjaga keselamatan diri, anggota tim, penderita dan orang sekitarnya.
b. Dapat menjangkau penderita.
c. Dapat mengenali dan mengatasi masalah yang mengancam nyawa.
d. Meminta bantuan/rujukan.
e. Memberikan pertolongan dengan cepat dan tepat berdasarkan keadaan korban
f. Membantu pelaku pertolongan pertama lainnya.
g. Ikut menjaga kerahasiaan medis penderita.
h. Melakukan komunikasi dengan petugas lain yang terlibat.
i. Mempersiapkan penderita untuk ditransportasi.
Kualifikasi Pelaku Pertolongan Pertama
Agar dapat menjalankan tugas seorang petugas penolong harus memiliki kualifikasi sebagai berikut :
a.    Jujur dan bertanggungjawab.
b.    Memiliki sikap profesional.
c.     Kematangan emosi.
d.    Kemampuan bersosialisasi.
e.    Kemampuannya nyata terukur sesuai sertifikasi PMI. Secara berkesinambungan mengikuti kursus penyegaran.
f.     Selalu dalam keadaan siap, khususnya secara fisik
g.    Mempunyai rasa bangga.
Fungsi Alat dan Bahan Dasar
Dalam menjalankan tugasnya ada beberapa peralatan dasar yang sebaiknya tersedia dan mampu digunakan oleh penolong di antaranya :
1. Alat dan bahan memeriksa korban
2. Alat dan bahan perawatan luka
3. Alat dan bahan perawatan patah tulang
4. Alat untuk memindahkan penderita
5. Alat lain yang dianggap perlu sesuai dengan kemampuan
ANATOMI
Pengertian – pengertian
Anatomi (susunan Tubuh)
Anatomi adalah ilmu yang mempelajari susunan tubuh dan bentuk tubuh
Fisiologi (faal tubuh)
Ilmu yang mempelajari faal (fungsi) bagian dari alat atau jaringan tubuh.
Posisi Anatomis
Tubuh manusia diproyeksikan menjadi suatu posisi yang dikenal sebagai posisi anatomis, yaitu berdiri tegak, ke dua lengan di samping tubuh, telapak tangan menghadap ke depan. Kanan dan kiri mengacu pada kanan dan kiri penderita.
Gambar bisa dilihat pada buku Pertolongan Pertama edisi ke II, terbitan Markas Pusat PMI
BIDANG ANATOMIS
Dalam posisi seperti ini tubuh manusia dibagi menjadi beberapa bagian oleh 3 buah bidang khayal:
1. Bidang Medial; yang membagi tubuh menjadi kiri dan kanan
2. Bidang Frontal; yang membagi tubuh menjadi depan (anterior) dan bawah (posterior)
3. Bidang Transversal; yang membagi tubuh menjadi atas (superior) dan bawah (inferior)
Istilah lain yang juga dipergunakan adalah untuk menentukan suatu titik lebih dekat ke titik referensi (proximal) dan lebih jauh ke titik referensi (distal).
Pembagian tubuh manusia
Tubuh manusia dikelilingi oleh kulit dan diperkuat oleh rangka. Secara garis besar, tubuh manusia dibagi menjadi :
a. Kepala
Tengkorak, wajah, dan rahang bawah
b. Leher
c. Batang tubuh
Dada, perut, punggung, dan panggul
d. Anggota gerak atas
Sendi bahu, lengan atas, lengan bawah, siku, pergelangan tangan, tangan.
e. Anggota gerak bawah
Sendi panggul, tungkai atas, lutut, tungkai bawah, pergelangan kaki, kaki.
Rongga dalam tubuh manusia
Selain pembagian tubuh maka juga perlu dikenali 5 buah rongga yang terdapat di dalam tubuh yaitu :
a. Rongga tengkorak
Berisi otak dan bagian-bagiannya
b. Rongga tulang belakang
Berisi bumbung saraf atau “spinal cord
c. Rongga dada
Berisi jantung dan paru
d. Rongga perut (abdomen)
Berisi berbagai berbagai organ pencernaan
Untuk mempermudah perut manusia dibagi menjadi 4 bagian yang dikenal sebagai kwadran sebagai berikut:
i. Kwadran kanan atas (hati, kandung empedu, pankreas dan usus)
ii. Kwadran kiri atas (organ lambung, limpa dan usus)
iii. Kwadran kanan bawah (terutama organ usus termasuk usus buntu)
iv. Kwadran kiri bawah (terutama usus).
e. Rongga panggul
Berisi kandung kemih, sebagian usus besar, dan organ reproduksi dalam
Sistem dalam tubuh manusia
Agar dapat hidup tubuh manusia memiliki beberapa sistem:
1. Sistem Rangka (kerangka/skeleton)
a. Menopang bagian tubuh
b. Melindungi organ tubuh
c. Tempat melekat otot dan pergerakan tubuh
d. Memberi bentuk bangunan tubuh
2. Sistem Otot (muskularis)
Memungkinkan tubuh dapat bergerak
3. Sistem pernapasan (respirasi)
Pernapasan bertanggung jawab untuk memasukkan oskigen dari udara bebas ke dalam darah dan mengeluarkan karbondioksida dari tubuh.
4. Sistem peredaran darah (sirkulasi)
Sistem ini berfungsi untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh.
5. Sistem saraf (nervus)
Mengatur hampir semua fungsi tubuh manusia. Mulai dari yang disadari sampaiyang tidak disadari
6. Sistem pencernaan (digestif)
Berfungsi untuk mencernakan makanan yang masuk dalam tubuh sehingga siap masuk ke dalam darah dan siap untuk dipakai oleh tubuh
7. Sistem Klenjar Buntu (endokrin)
8. Sistem Kemih (urinarius)
9. Kulit
10. Panca Indera
11. Sistem Reproduksi
PENILAIAN
Saat menemukan penderita ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk menentukan tindakan selanjutnya, baik itu untuk mengatasi situasi maupun untuk mengatasi korbannya.
Langkah – langkah penilaian pada penderita
a. Penilaian Keadaan
b. Penilaian Dini
c. Pemeriksaan Fisik
d. Riwayat Penderita
e. Pemeriksaan Berkala atau Lanjut
f. Serah terima dan pelaporan
Penilaian keadaan
Penilaian keadaan dilakukan untuk memastikan situasi yang dihadapi dalam suatu upaya pertolongan. Sebagai penolong kita harus memastikan apa yang sebenarnya kita hadapai, apakah ada bahaya susulan atau hal yang dapat membahayakan seorang penolong. Ingatlah selalu bahwa seorang atau lebih sudah menjadi korban, jangan ditambah lagi dengan penolong yang menjadi korban. Keselamatan penolong adalah nomor satu
Keamanan lokasi
Pelaku pertolongan pertama saat mencapai lokasi kejadian, haruslah tanggap dan dengan serta merta melakukan penilaian keadaan dengan mengajukan pertanyaan – pertanyaan seperti dibawah.
a. Bagaimana kondisi saat itu
b. Kemungkinan apa saja yang akan terjadi
c. Bagaimana mengatasinya
Setelah keadaan di atasi barulah kita mendekati dan menolong korban. Adakalanya kedua ini berjalan bersamaan
Tindakan saat tiba di lokasi
Bila anda sudah memastikan bahwa keadaan aman maka tindakan selanjutnya adalah :
1. Memastikan keselamatan penolong, penderita, dan orang-orang di sekitar lokasi kejadian.
2. Penolong harus memperkenalkan diri, bila memungkinkan:
· Nama Penolong
· Nama Organisasi
· Permintaan izin untuk menolong dari penderita / orang
3. Menentukan keadaan umum kejadian (mekanisme cedera) dan mulai melakukan penilaian dini dari penderita.
4. Mengenali dan mengatasi gangguan / cedera yang mengancam nyawa.
5. Stabilkan penderita dan teruskan pemantauan.
6. Minta bantuan.
Sumber Informasi
Informasi tambahan mengenai kasus yang kita hadapi dapat diperoleh dari :
· Kejadian itu sendiri.
· Penderita (bila sadar).
· Keluarga atau saksi.
· Mekanisme kejadian.
· Perubahan bentuk yang nyata atau cedera yang jelas.
· Gejala atau tanda khas suatu cedera atau penyakit.
Penilaian Dini
Penolong harus mampu segera mampu untuk mengenali dan mengatasi keadaan yang mengancam nyawa korban.
Langkah-langkah penilaian dini
a. Kesan umum
Seiring mendekati penderita, penolong harus mementukan apakah situasi penderita tergolong kasus trauma atau kasus medis.
Kasus Trauma – Mempunyai tanda – tanda yang jelas terlihat atau teraba.
Kasus Medis – Tanpa tanda – tanda yang terlihat atau teraba
b. Periksa Respon
Cara sederhana untuk mendapatkan gambaran gangguan yang berkaitan dengan otak penderitaTerdapat 4 tingkat Respons penderita
A = Awas
Penderita sadar dan mengenali keberadaan dan lingkungannya.
S = Suara
Penderita hanya menjawab/bereaksi bila dipanggil atau mendengar suara.
N = Nyeri
Penderita hanya bereaksi terhadap rangsang nyeri yang diberikan oleh penolong, misalnya dicubit, tekanan pada tulang dada.
T = Tidak respon
Penderita tidak bereaksi terhadap rangsang apapun yang diberikan olehpenolong. Tidak membuka mata, tidak bereaksi terhadap suara atau sama sekali tidak bereaksi pada rangsang nyeri.
c. Memastikan jalan napas terbuka dengan baik (Airway).
Jalan napas merupakan pintu gerbang masuknya oksigen ke dalam tubuh manusia. Apapaun usaha yang dilakukan, namun bila jalan napas tertutup semuanya akan gagal.
a. Pasien dengan respon
Cara sederhana untuk menilai adalah dengan memperhatikan peserta saat berbicara. Adanya gangguan jalan napas biasanya akan berakibat pada gangguan bicara.
b. Pasien yang tidak respon
Pada penderita yang tidak respon, penolonglah yang harus mengambil inisiatif untuk membuka jalan napas. Cara membuka jalan napas yang dianjurkan adalah angkat dagu tekan dahi. Pastikan juga mulut korban bersih, tidak ada sisa makanan atau benda lain yang mungkin menyumbat saluran napas
d. Menilai pernapasan (Breathing)
Periksa ada tidaknya napas dengan jalan lihat, dengar dan rasakan, nilai selama 3 – 5 detik.
Pernapasan yang cukup baik
i. Dada naik dan turun secara penuh
ii. Bernapas mudah dan lancar
iii. Kualitas pernapasan normal
(<8 x/menit dewasa, <10 x/menit anak – anak, 20 x/menit bayi)
Pernapasan yang kurang baik
i. Dada tidak naik atau turun secara penuh
ii. Terdapat kesulitan bernapas
iii. Cyanosis (warna biru/abu – abu pada kulit, bibir, atau kuku)
iv. Kualitas pernapasan tidak normal
e. Menilai sirkulasi dan menghentikan perdarahan berat
Pastikan denyut jantung cukup baik Pastikan bahwa tidak ada perdarahan yang dapat mengancam nyawa yang tidak terlihat. Pakaian tebal dapat mengumpulkan darah dalam jumlah yang cukup banyak.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik harus dilakukan dengan rinci dan sistematis mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Tiga metode pemeriksaan fisik:
1. Penglihatan (Inspection)
2. Perabaan (Palpation)
3. Pendengaran (Auscultation)
Jangan banyak membuang waktu untuk melakukan pemeriksaan secara rinci. Lakukan secara cepat tetapi pastikan tidak ada yang terlewat. Pemeriksaan fisik memastikan bahwa tidak ada yang terlewat.
Beberapa hal yang dapat dicari pada saat memeriksa korban :
P erubahan bentuk - (Deformities) bandingkan sisi sakit dengan yang sehat
L uka Terbuka - (Open Ijuries) biasanya terlihat adanya darah
N yeri - (Tenderness) daerah yang cedera lunak bila ditekan
B engkak - (Swelling) daerah yang cedera mengalami pembengkakan
Beberapa tanda cedera mungkin dapat jelas terlihat, banyak yang tidak terlihat dan menyimpan serius cedera potensial.
Pemeriksaan fisik (Head to Toe)
Amati dan raba (menggunakan kedua tangan dan dengan tekanan), bandingkan (simetry), cium bau yang tidak biasa dan dengarkan (suara napas atau derit anggota tubuh), dalam urutan berikut:
1. Kepala
Ø Kulit Kepala dan Tengkorak
Ø Telinga dan Hidung
Ø Pupil Mata
Ø Mulut
2. Leher
3. Dada
Ø Periksa perubahan bentuk, luka terbuka, atau perubahan kekerasan
Ø Rasakan perubahan bentuk tulang rusuk sampai ke tulang belakang
Ø Lakukan perabaan pada tulang
4. Abdomen
Ø Periksa rigiditas (kekerasan)
Ø Periksa potensial luka dan infeksi
Ø Mungkin terjadi cedera tidak terlihat, lakukan perabaan
Ø Periksa adanya pembengkakan
5. Punggung
Ø Periksa perubahan bentuk pada tulang rusuk
Ø Periksa perubahan bentuk sepanjang tulang belakang
6. Pelvis
7. Alat gerak atas
8. Alat gerak bawah
Pemeriksaan tanda vital
1.    Frekuensi nadi, termasuk kualitas denyutnya, kuat atau lemah, teratur atau tidak
2.    Frekuensi napas, juga apakah proses bernapas terjadi secara mudah, atau ada usaha bernapas, adakah tanda-tanda sesak napas.
3.    Tekanan darah, tidak dilakukan pemeriksaan oleh KSR dasar
4.    Suhu, diperiksa suhu relatif pada dahi penderita. Periksa juga kondisi kulit: kering, berkeringat, kemerahan, perubahan warna dan lainnya.
Denyut Nadi Normal :
Bayi : 120 – 150 x/menit
Anak : 80 – 150 x/menit
Dewasa : 60 – 90 x/menit
Frekuensi Pernapasan Normal:
Bayi : 25 – 50 x/ menit
Anak : 15 – 30 x/ menit
Dewasa : 12 – 20 x/ menit
Riwayat Penderita
Selain melakukan pemeriksaan, jika memungkinkan dilakukan wawancara untuk mendapatkan data tambahan. Wawancara sangat penting jika menemukan korban dengan penyakit.
Mengingat wawancara yang dilakukan dapat berkembang sangat luas, untuk membantu digunakan akronim : KOMPAK
K = Keluhan Utama (gejala dan tanda)
sesuatu yang sangat dikeluhkan penderita
O = Obat-obatan yang diminum.
Pengobatan yang sedang dijalani penderita atau obat yang baru saja diminum atau obat yang seharusnya diminum namun ternyata belum diminum.
M = Makanan/minuman terakhir
Peristiwa ini mungkin menjadi dasar terjadinya kehilangan respon pada penderita. Selain itu data ini juga penting untuk diketahui bila ternyata penderita harus menjalani pembedahan kemudian di rumah sakit.
P = Penyakit yang diderita
Riwayat penyakit yang diderita atau pernah diderita yang mungkin berhubungan dengan keadaan yang dialami penderita pada saat ini, misalnya keluhan sesak napas dengan riwayat gangguan jantung 3 tahun yang lalu.
A = Alergi yang dialami.
Perlu dicari apakah penyebab kelainan pada pasien ini mungkin merupakan suatu bentuk alergi, biasanya penderita atau keluarganya sudah mengetahuinya
K = Kejadian.
Kejadian yang dialami korban, sebelum kecelakaan atau sebelum timbulnya gejala dan tanda penyakit yang diderita saat ini.
Wawancara ini dapat dilakukan sambil memeriksa korban, tidak perlu menunggu sampai pemeriksaan selesai dilakukan.
Pemeriksaan Berkelanjutan
Setelah selesai melakukan pemeriksaan dan tindakan, selanjutnya lakukan pemeriksaan berkala, sesuai dengan berat ringannya kasus yang kita hadapi.
Pada kasus yang dianggap berat, pemeriksaan berkala dilakukan setiap 5 menit, sedangkan pada kasus yang ringan dapat dilakukan setiap 15 menit sekali.
Beberapa hal yang dapat dilakukan pada pemeriksaan berkala adalah :
1.    Keadaan respon
2.    Nilai kembali jalan napas dan perbaiki bila perlu
3.    Nilai kembali pernapasan, frekuensi dan kualitasnya
4.    Periksa kembali nadi penderita dan bila perlu lakukan secara rinci bila waktu memang tersedia.
5.    Nilai kembali keadaan kulit : suhu, kelembaban dan kondisinya Periksa kembali dari ujung kepala sampai ujung kaki, mungkin ada bagian yang terlewat atau membutuhkan pemeriksaan yang lebih teliti.
6.    Periksa kembali secara seksama mungkin ada bagian yang belum diperiksa atau sengaja dilewati karena melakukan pemeriksaan terarah.
7.    Nilai kembali penatalaksanaan penderita, apakah sudah baik atau masih perlu ada tindakan lainnya. Periksa kembali semua pembalutan, pembidaian apakah masih cukup kuat, apakah perdarahan sudah dapat di atasi, ada bagian yang belum terawat.
8.    Pertahankan komunikasi dengan penderita untuk menjaga rasa aman dan nyaman
Pelaporan dan Serah terima
Biasakanlah untuk membuat laporan secara tertulis. Laporan ini berguna sebagai catatan anda, PMI dan bukti medis.
Hal-hal yang sebaiknya dilaporkan adalah :
  • Umur dan jenis kelamin penderita
  • Keluhan Utama
  • Tingkat respon
  • Keadaan jalan napas
  • Pernapasan
  • Sirkulasi
  • Pemeriksaan Fisik yang penting
  • KOMPAK yang penting
  • Penatalaksanaan
  • Perkembangan lainnya yang dianggap penting
Bila ada formulirnya sertakan form laporan ini kepada petugas yang mengambil alih korban dari tangan anda.
Serah terima dapat dilakukan di lokasi, yaitu saat tim bantuan datang ke tempat anda, atau anda yang mendatangi fasilitas kesehatan.
BHD
Sistem pernapasan dan sirkulasi
a. Sistem pernapasan, fungsi :
Ø Mengambil oksigen
Ø Mengeluarkan CO2
Ø Menghangatkan dan melembabkan udara ( hidung )
Susunan saluran napas :
i. Mulut/hidung
ii. Faring
iii. Larings
iv. Trakea
v. Bronkus
vi. Bronkiolus
vii. Alveolus (tempat pertukaran O2 dan CO2 di paru-paru).
b. Sistem sirkulasi, fungsi :
Ø Alat angkut : O2, CO2, zat nutrisi, zat sampah.
Ø Pertahanan tubuh terhadap penyakit dan racun
Ø Mengedarkan panas ke seluruh tubuh
Ø Membantu membekukan darah bila terjadi luka
Sistem sirkulasi, terdiri dari :
i. Jantung
ii. Pembuluh darah ( arteri, vena, kapiler )
iii. Darah dan komponennya ( sel darah merah, sel darah putih, keping darah, plasma )
iv. Saluran limfe
Pengertian mati klinis dan mati biologis
Mati klinis :
Tidak ditemukan adanya pernapasan dan denyut nadi, bersifat reversibel, penderita punya kesempatan waktu 4-6 menit untuk dilakukan resusitasi tanpa kerusakan otak.
Mati biologis :
Biasanya terjadi dalam waktu 8-10 menit dari henti jantung, dimulai dengan kematian sel otak, bersifat irreversibel. ( kecuali berada di suhu yang ekstrim dingin, pernah dilaporkan melakukan resusitasi selama 1 jam/ lebih dan berhasil ).
Tanda-tanda pasti mati :
a. Lebam mayat
b. Kaku mayat
c. Pembusukan
d. Tanda lainnya : cedera mematikan.
4 komponen rantai survival
a. Kecepatan dalam permintaan bantuan
b. Resusitasi jantung paru ( RJP )
c. Defibrilasi
d. Pertolongan hidup lanjut
3 komponen Bantuan Hidup Dasar
a. A (Airway Control) : penguasan jalan napas
b. B (Breathing Support) : bantuan pernapasan
c. C (Circulatory Suport) : bantuan sirkulasi (pijatan jantung luar) dan menghentikanperdarahan besar.
2 macam penyebab utama sumbatan jalan napas
Ø Lidah ( pada orang dewasa yang tidak ada respon )
Ø Benda asing ( pada bayi dan anak kecil )
2 macam cara membuka jalan napas
Ø Teknik angkat dagu-tekan dahi (bila tidak ada trauma kepala,leher, tulangbelakang).
Ø Perasat pendorongan rahang bawah (jaw thrust maneuver)
Cara memeriksa napas
Dengan cara LDR ( lihat, dengar, rasakan ) selama 3-5 detik.
2 teknik untuk membersihkan jalan napas
Ø Menempatkan posisi pemulihan
Ø Sapuan jari
Mengenali sumbatan jalan napas
Ø Sumbatan parsial : penderita berupaya untuk bernapas, mungkin disertai bunyi napas tambahan seperti mengirik, mengorok, kumur, dll.
Ø Sumbatan total : penderita sulit bernapas dan akhirnya akan kehilangan kesadaran
Cara mengatasi sumbatan jalan napas pada berbagai penderita
Sumbatan jalan napas total dapat diatasi dengan Perasat Heimlich (Heimlich Manuveur), yaitu :
Ø Hentakan perut : letak kompresi pada pertengahan antara pertemuan iga kanan/kiri dengan pusar.
Ø Hentakan dada : letak kompresi pada pertengahan tulang dada
Prinsip dasar bantuan pernapasan
2 Teknik bantuan pernapasan :
i. Menggunakan mulut penolong :
Ø mulut ke masker RJP
Ø mulut ke APD
Ø mulut ke mulut/ hidung
ii. Menggunakan alat bantu : kantung masker berkatup (BVM/ Bag Valve Mask)
Bahaya bagi penolong dalam pemberian napas dari mulut ke mulut ;
Ø penyebaran penyakit
Ø kontaminasi bahan kimia
Ø muntahan penderita
Frekwensi pemberian napas buatan untk masing-masing kelompok umur penderita.
Ø Dewasa : 10-12 x pernapasan/ menit, masing-masing 1,5-2 detik
Ø Anak(1-8 th) : 20 x pernapasan/ menit, masing-masing 1-1,5 detik
Ø Bayi (0-1 th) : lebih dari 20 x pernapasan/ menit, masing-masing 1-1,5 detik
Ø Bayi baru lahir : 40 x pernapasan/ menit, masing-masing 1-1,5 detik
Tanda pernapasan adekuat, kurang adekuat dan tidak bernapas
i. Tanda pernapasan adekuat :
Ø Dada dan perut naik turun sirama dengan pernapasan
Ø Penderita tampak nyaman
Ø Frekuensi cukup ( 12-20x/menit )
ii. Tanda pernapasan kurang adekuat :
Ø Gerakan dada kurang baik
Ø Ada suara napas tambahan
Ø Kerja oto bantu napas
Ø Sianosis ( kulit kebiruan )
Ø Frekuensi napas kurang/ berlebih
Ø Perubahan status mental
iii. Tanda tidak bernapas :
Ø Tidak ada gerakan dada/ perut
Ø Tidak terdengar aliran udara melalui mulut/ hidung
Ø Tidak terasa hembusan napas dari mulut/ hidung.
Prinsip dasar Bantuan Sirkulasi
Bantuan sirkulasi dilakukan dengan pijatan jantung luar, kedalaman PJL :
Ø Dewasa : 4 – 5 cm
Ø Anak dan bayi : 3 – 4 cm
Ø Bayi : 1,5 – 2,5 cm
Prinsip Resusitasi Jantung Paru (RJP)
Tindakan RJP merupakan gabungan dari ketiga komponen A, B, dan C.
Sebelum melakukan RJP, penolong harus memastikan :
Ø Tidak ada respon
Ø Tidak ada napas
Ø Tidak ada nadi
Ø Alas RJP harus keras dan datar
a. 2 macam rasio pada RJP
i. Dewasa dikenal 2 rasio :
Ø 2 penolong : 15:2 (15 kali PJL, 2 kali tiupan) per siklus
Ø 1 penolong : 5:1 (5 kali PJL, 1 kali tiupan) per silkus
ii. Anak dan bayi hanya dikenal 1 rasio : 5:1 ( 5 kali PJL, 1 kali tiupan ) per silkus
b. Prinsip penekanan pada Pijatan Jantung Luar
Pijatan jantung luar bisa dilakukan karena jantung terletak diantara tulang dada dan tulang punggung.
Letak titik pijatan pada PJL :
i. Dewasa : 2 jari diatas pertemuan iga terbawah kanan/kiri, menggunakan 2 tangan.
ii. Anak : 2 jari diatas pertemuan iga terbawah kanan/kiri, menggunakan 1 tangan.
iii. Bayi : 1 jari dibawah garis imajiner antara kedua puting susu bayi, menggunakan 2 jari ( jari tengah dan jari manis )
c. 6 tanda RJP dilakukan dengan baik
i. Saat melakukan PJL, suruh seseorang menilai nadi karotis, bila ada denyut maka berarti tekanan kita cukup baik.
ii. Gerakan dada naik/turun dengan baik saat memberikan bantuan napas.
iii. Reaksi pupil mata mungkin kembali normal
iv. Warna kulit penderita berangsu-angsur kembali membaik
v. Mungkin ada reflek menelan dan bergerak
vi. Nadi akan berdenyut kembali
d. 5 macam komplikasi yang dapat terjadi pada RJP
i. Patah tulang dada/ iga
ii. Bocornya paru-paru ( pneumothorak)
iii. Perdarahan dalam paru-paru/ rongga dada ( hemothorak )
iv. Luka dan memar pada paru-paru
v. Robekan pada hati
e. 4 keadaan dimana tindakan RJP di hentikan
i. penderita pulih kembali
ii. penolong kelelahan
iii. diambil alih oleh tenaga yang sama atau yang lebih terlatih
iv. jika ada tanda pasti mati
f. Kesalahan pada RJP dan akibatnya

KESALAHAN
AKIBAT
Penderita tdk berbaring pd bidang keras
PJL kurang efektif
Penderita tidak horisontal
Bila kepala lbh tinggi, darah yg ke otak berkurang
Tekan dahi angkat dagu, kurang baik
Jalan napas terganggu
Kebocoran saat melakukan napas buatan
Napas buatan tidak efektif
Lubang hidung kurang tertutup rapat dan mulut penderita kurang terbuka saat pernapasan buatan
Napas buatan tidak efektif
Tekanan terlalu dalam/ terlalu cepat
Patah tulang, luka dalam paru-paru
Rasio PJL dan napas buatan tidak baik
Oksigenasi darah kurang
Pendarahan
Pengertian Perdarahan
Sistem peredaran darah yang terdiri dari 3 komponen utama yaitu jantung, pembuluh darah dan darah. Dalam tubuh manusia darah relatif selalu berada dalam pembuluh darah kecuali pada saat masuk dalam jaringan untuk melakukan pertukaran bahan makanan dan oksigen dengan zat sisa pembakaran tubuh dan karbondioksida.
Jantung
Bagian sebelah kiri menerima darah yang kaya dengan oksigen setelah diproses dari paru – paru untuk selanjutnya diedarkan ke seluruh tubuh.
Bagian sebelah kanan menerima darah dari tubuh dan meneruskan ke paru – paru untuk kembali diperkaya dengan oksigen.
Arteri/Pembuluh Nadi
Adalah pembuluh darah yang mengangkut darah yang kaya dengan oksigen ke seluruh tubuh. Darah yang keluar berwarna merah segar dan memancar
Vena/Pembuluh Balik
Adalah pembuluh darah yang mengangkut darah dari seluruh tubuh kembali ke jantung. Darah yang keluar mengalir dan berwarna merah gelap
Kapiler/Pembuluh Rambut
Arteri akan terbagi – bagi menjadi pembuluh yang lebih kecil sehingga dapat mencapai hingga lebih dekat dengan kulit. Darah yang keluar sangat sedikit dan kadang hanya berupa titik-titik perdarahan
Denyut
Dapat dirasakan dengan mudah pada daerah dimana Arteri/Pembuluh Nadi berada dekat dengan kulit.
Lokasi pengecekan denyut yang paling mudah:
1. Radial – Berada di pergelangan tangan
2. Carotid – Berada di leher
3. Femoral – Berada di lipatan paha
Setiap kali jantung berdetak, anda dapat merasakan denyutnya pada sistem arteri.
Darah
Komposisi
Terdiri atas sel darah putih, sel darah merah, dan plasma darah.
Sumber Perdarahan
Perdarahan terjadi apabila darah keluar dari pembuluh darah oleh berbagai sebab seperti cedera atau penyakit.
Berdasarkan sumber perdarahan:
a. Perdarahan nadi
b. Perdarahan pembuluh balik
c. Perdarahan pembuluh rambut
PENDARAHAN
Jenis Perdarahan
Perdarahan dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:
Perdarahan luar (terbuka), bila kulit juga cedera sehingga darah bisa keluar dari tubuh dan terlihat ada di luar tubuh.
Perdarahan dalam (tertutup), jika kulit tidak rusak sehingga darah tidak bisa mengalir langsung keluar tubuh.
Perdarahan yang harus segera ditangani adalah perdarahan yang dapat mengancam nyawa.
Perdarahan luar
Untuk membantu memperkirakan berapa banyak darah yang telah keluar dari tubuh penderita, hal yang dipakai adalah keluhan korban dan tanda vital. Bila keluhan korban sudah mengarah ke gejala dan tanda syok seperti yang dibahas dalam topik ini maka penolong wajib mencurigai bahwa kehilangan darah terjadi dalam jumlah yang cukup banyak.
Perawatan untuk Perdarahan luar
a. Tekanan Langsung
b. Elevasi
c. Titik Tekan
d. Immobilisasi
Menggunakan Torniket
Torniket hanya digunakan dalam keadaan gawat darurat dimana tidak ada cara lain utnuk menghentikan perdarahan. Torniket diaplikasikan sedekat mungkin dengan titik perdarahan.
Perdarahan dalam
Perdarahan dalam dapat berkisar dari skala kecil hingga yang mengancam jiwa penderita. Kehilangan darah tidak dapat diamati pada perdarahan dalam.
Gejala dan Tanda
Beberapa tanda perdarahan dalam dapat diidentifikasi. Beberapa adalah sbb.:
a. Batuk darah berwarna merah muda
b. Memuntahkan darah berwarna gelap (seperti ampas kopi)
c. Terdapat memar
d. Bagian Abdomen terasa lunak
Perawatan untuk Perdarahan dalam
Ingatlah untuk menggunakan standard universal, amankan lokasi kejadian dan hubungi tenaga terlatih.
a.    Jaga jalan napas tetap terbuka dan berikan oksigen sesuai peraturan
b.    Pertahankan panas tubuh penderita, tapi jangan sampai kepanasan
c.     Atasi Syok
d.    Pindahkan penderita secepatnya
Laporkan kemungkinan adanya perdarahan dalam kepada tenaga terlatih segera setelah mereka tiba di lokasi.
Bahaya lain pada perdarahan adalah kemungkinan terjadinya penularan penyakit. Banyak kuman penyakit bertahan hidup di dalam darah manusia, sehingga bila darah korban ini bisa masuk kedalam tubuh penolong maka ada kemungkinan penolong dapat tertular penyakit.
Perdarahan dalam harus dicurigai pada beberapa keadaan seperti :
1.    Riwayat benturan benda tumpul yang kuat
2.    Memar
3.    Batuk darah
4.    Muntah darah
5.    Buang air besar atau air kecil berdarah
6.    Luka tusuk
7.    Patah tulang tertutup
8.    Nyeri tekan, kaku atau kejang dinding perut
Perawatan Perdarahan
1.    Perlindungan terhadap infeksi pada penanganan perdarahan :
a. Pakai APD agar tidak terkena darah atau cairan tubuh korban.
b. Jangan menyentuh mulut, hidung, mata, makanan sewaktu memberi perawatan
c. Cucilah tangan segera setelah selesai merawat
d. Dekontaminasi atau buang bahan yang sudah ternoda dengan darah atau cairan tubuh korban.
1.    Pada perdarahan besar:
a. Jangan buang waktu mencari penutup luka
b. Tekan langsung dengan tangan (sebaiknya menggunakan sarung tangan) atau dengan bahan lain.
c. Bila tidak berhenti maka tinggikan bagian tersebut lebih tinggi dari jantung (hanya pada alat gerak), bila masih belum berhenti maka lakukan penekanan pada titik-titik tekan.
d. Pertahankan dan tekan cukup kuat.
e. Pasang pembalutan penekan
1.    Pada perdarahan ringan atau terkendali :
a. Gunakan tekanan langsung dengan penutup luka
b. Tekan sampai perdarahan terkendali
c. Pertahankan penutup luka dan balut
d. Sebaiknya jangan melepas penutup luka atau balutan pertama
1.    Perdarahan dalam atau curiga ada perdarahan dalam
a. Baringkan dan istirahatkan penderita
b. Buka jalan napas dan pertahankan
c. Periksa berkala pernapasan dan denyut nadi
d. Perawatan syok bila terjadi syok atau diduga akan menjadi syok
e. Jangan beri makan dan minum
f. Rawatlah cedera berat lainnya bila ada
g. Rujuk ke fasilitas kesehatan
Penanganan perdarahan berarti mengendalikan perdarahan, bukan berarti
Syok
Syok terjadi bila sistem peredaran darah (sirkulasi) gagal mengirimkan darah yang mengandung oksigen dan bahan nutrisi ke alat tubuh yang penting (terutama otak, jantung dan paru-paru).
Penyebab
Ø Kegagalan jantung memompa darah
Ø Kehilangan darah dalam jumlah besar
Ø Pelebaran ( dilatasi ) pembuluh darah yang luas, sehingga darah tidak dapat mengisinya dengan baik
Ø Kekurangan cairan tubuh yang banyak misalnya diare.
Gejala dan tanda syok
Ø Nadi cepat dan lemah
Ø Napas cepat dan dangkal
Ø Kulit pucat,dingin dan lembab
Ø Sering kebiruan pada bibir dan cuping telinga
Ø Haus
Ø Mual dan muntah
Ø Lemah dan pusing
Ø Merasa seperti mau kiamat, gelisah
Penanganan syok
Ø Bawa penderita ke tempat teduh dan aman
Ø Tidurkan telentang, tungkai ditinggikan 20 – 30 cm bila tidak ada kecurigaan patah tulang belakang atau patah tungkai. Bila menggunakan papan spinal atau tandu maka angkat bagian kaki.
Ø Pakaian penderita dilonggarkan
Ø Cegah kehilangan panas tubuh dengan beri selimut penutup
Ø Tenangkan penderita
Ø Pastikan jalan napas dan pernapasan baik.
Ø Kontrol perdarahan dan rawat cedera lainnya bila ada
Ø Jangan beri makan dan minum.
Ø Periksa berkala tanda vital secara berkala
Ø Rujuk ke fasilitas kesehatan
Jaringan Lunak
Pengertian
Cedera jaringan lunak adalah cedera yang melibatkan jaringan kulit, otot, saraf atau pembuluh darah akibat suatu ruda paksa. Keadaan ini umumnya dikenal dengan istilah luka. Beberapa penyulit yang dapat terjadi adalah perdarahan, kelumpuhan serta berbagai gangguan lainnya sesuai dengan penyebab dan beratnya cedera yang terjadi.
Klasifikasi Luka
Luka secara garis besar dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Luka terbuka
Cedera jaringan lunak disertai kerusakan / terputusnya jaringan kulit yaitu rusaknya kulit dan bisa disertai jaringan di bawah kulit.
b. Luka tertutup
Cedera jaringan lunak tanpa kerusakan/terputusnya jaringan kulit, yang rusak hanya jaringan di bawah kulit.
Pembagian ini tidak menjadi penentu berat ringannya suatu cedera.
Luka Terbuka
Luka terbuka dapat ditemukan dalam berbagai bentuk diantaranya :
a. Luka lecet
Terjadi biasanya akibat gesekan dengan permukaan yang tidak rata
b. Luka robek
Luka ini memiliki ciri tepi yang tidak beraturan, biasanya terjadi akibat tumbukan dengan benda yang relatif tumpul. Merupakan luka yang paling banyak ditemukan.
c. Luka sayat
Diakibatkan oleh benda tajam yang mengenai tubuh manusia. Bentuk lukanya biasanya rapi. Sering merupakan kasus kriminal
d. Luka tusuk
Terjadi bila benda yang melukai bisa masuk jauh ke dalam tubuh, biasanya kedalaman luka jauh dibandingkan lebar luka. Bahayanya alat dalam tubuh mungkin terkena.
e. Luka avulsi
Luka ini ditandai dengan bagian tubuh yang terlepas, namun masih ada bagian yang menempel.
f. Luka amputasi
Bagian tubuh tertentu putus.
Luka Tertutup
Luka tertutup yang sering ditemukan adalah :
a. Luka memar
Terjadi akibat benturan dengan benda tumpul, biasanya terjadi di daerah permukaan tubuh, darah keluar dari pembuluh dan terkumpul di bawah hulit sehingga bisa terlihat dari luar berupa warna merah kebiruan
b. Hematoma (darah yang terkumpul di jaringan)
Prinsipnya sama dengan luka memar tetapi pembuluh darah yang rusak berada jauh di bawah permukaan kulit dan biasanya besar, sehingga yang terlihat adalah bengkak, biasanya besar yang kemerahan.
c. Luka remuk
Terjadi akibat himpitan gaya yang sangat besar. Dapat juga menjadi luka terbuka. Biasanya tulang menajadi patah di beberapa tempat.
Penutup dan Pembalut Luka
Penutup luka
1. Membantu mengendalikan perdarahan
2. Mencegah kontaminasi lebih lanjut
3. Mempercepat penyembuhan
4. Mengurangi nyeri
Pembalut
Pembalut adalah bahan yang digunakan untuk mempertahankan penutup luka. Bahan pembalut dibuat dari bermacam materi kain.
Fungsi pembalut
1.    Penekanan untuk membantu menghentikan perdarahan.
2.    Mempertahankan penutup luka pada tempatnya.
3.    Menjadi penopang untuk bagian tubuh yang cedera.
Pemasangan yang baik akan membantu proses penyembuhan.
Beberapa jenis pembalut
Ø Pembalut pita/gulung.
Ø Pembalut segitiga (mitela).
Ø Pembalut penekan.
Penutupan luka
Ø Penutup luka harus meliputi seluruh permukaan luka.
Ø Upayakan permukaan luka sebersih mungkin sebelum menutup luka, kecuali bila luka disertai perdarahan, maka prioritasnya adalah menghentikan perdarahan tersebut.
Ø Pemasangan penutup luka harus dilakukan sedemikian rupa sehingga permukaan penutup yang menempel pada bagian luka tidak terkontaminasi
Pembalutan
Ø Jangan memasang pembalut sampai perdarahan terhenti, kecuali pembalutan penekanan untuk menghentikan perdarahan.
Ø Jangan membalut terlalu kencang atau terlalu longgar.
Ø Jangan biarkan ujung bahan terurai, karena dapat tersangkut pada saat memindahkan korban
Ø Bila membalut luka yang kecil sebaiknya daerah yang dibalut lebih lebar untuk menambah luasnya permukaan yang mengalami tekanan diperluas sehingga mencegah terjadinya kerusakan jaringan.
Ø Jangan menutupi ujung jari, bagian ini dapat menjadi petunjuk apabila pembalutan kita terlalu kuat yaitu dengan mengamati ujung jari. Bila pucat artinya pembalutan terlalu kuat dan harus diperbaiki.
Ø Khusus pada anggota gerak pembalutan dilakukan dari bagian yang jauh lebih dahulu lalu mendekati tubuh.
Ø Lakukan pembalutan dalam posisi yang diinginkan, misalnya untuk pembalutan sendi jangan berusaha menekuk sendi bila dibalut dalam keadaan lurus.
Penggunaan penutup luka penekan
Kombinasi penutup luka dan pembalut dapat juga dipakai untuk membantu melakukan tekanan langsung pada kasus perdarahan. Langkah-langkahnya :
1.    Tempatkan beberapa penutup luka kasa steril langsung atas luka dan tekan.
2.    Beri bantalan penutup luka.
3.    Gunakan pembalut rekat, menahan penutup luka.
4.    Balut.
5.    Periksa denyut nadi ujung bawah daerah luka (distal).
Perawatan luka Terbuka
1. Pastikan daerah luka terlihat
2. Bersihkan daerah sekitar luka
3. Kontrol perdarahan bila ada
4. Cegah kontaminasi lanjut
5. Beri penutup luka dan balut
6. Baringkan penderita bila kehilangan banyak darah dan lukanya cukup parah
7. Tenangkan penderita
8. Atasi syok bila ada, bila perlu rawat pada posisi syok walau syok belum terjadi
9. Rujuk ke fasilitas kesehatan
Perawatan Luka Tertutup
Lakukan perawatan seperti halnya terjadi perdarahan dalam
Khusus untuk luka memar dapat dilakukan pertolongan sebagai berikut :

Ø Berikan kompres dingin (misalnya kantung es)

Ø Balut tekan

Ø Istirahatkan anggota gerak tersebut

Ø Tinggikan anggota gerak tersebut

Bila ada kecurigaan perdarahan besar maka sebaiknya pederita dirawat seperti syok.
Perawatan luka dengan benda asing menancap
Langkah-langkah perawatan luka yang disertai dengan menancapnya benda asing adalah sebagai berikut :
1. Stabilkan benda yang menancap secara manual.
2. Jangan dicabut. Benda asing yang menancap tidak pernah boleh dicabut
3. Bagian yang luka dibuka sehingga terlihat dengan jelas.
4. Kendalikan perdarahan, hati-hati jangan sampai menekan benda yang menancap
5. Stabilkan benda asing tersebut dengan menggunakan penutup luka tebal, atau berbagai variasi misalnya pembalut donat, pembalut gulung dan lain-lainnya.
6. Rawat syok bila ada
7. Jaga pasien tetap istirahat dan tenang.
8. Rujuk ke fasilitas kesehatan.
Patah Tulang
Cedera Otot Rangka
Alat gerak yang terdiri dari tulang, sendi, jaringan ikat dan otot pada manusia sangat penting. Setiap cedera atau gangguan yang terjadi pada sistem ini akan mengakibatkan terganggunya pergerakan seseorang untuk sementara atau selamanya.
Gangguan yang paling sering dialami pada cedera otot rangka adalah Patah tulang. Pengertian patah tulang ialah terputusnya jaringan tulang, baik seluruhnya atau hanya sebagian saja.
Penyebab
Pada dasarnya tulang itu merupakan benda padat, namun masih sedikit memiliki kelenturan. Bila teregang melampau batas kelenturannya maka tulang tersebut akan patah.
Cedera dapat terjadi sebagai akibat :
1. Gaya langsung.
Tulang langsung menerima gaya yang besar sehingga patah.
2. Gaya tidak langsung.
Gaya yang terjadi pada satu bagian tubuh diteruskan ke bagian tubuh lainnya yang relatif lemah, sehingga akhirnya bagian lain iilah yang patah. Bagian yang menerima benturan langsung tidak mengalami cedera berarti
3. Gaya puntir.
Selain gaya langsung, juga tulang dapat menerima puntiran atau terputar sampai patah. Ini sering terjadi pada lengan.
Mekanisme terjadinya cedera harus diperhatikan pada kasus-kasus yang berhubungan dengan patah tulang. Ini dapat memberikan gambaran kasar kepada kita seberapa berat cedera yang kita hadapi.
Gejala dan tanda patah tulang
Mengingat besarnya gaya yang diterima maka kadang kasus patah tulang gejalanya dapat tidak jelas. Beberapa gejala dan tanda yang mungkin dijumpai pada patah tulang :
1.    Terjadi perubahan bentuk pada anggota badan yang patah. Seing merupakan satu-satunya tanda yang terlihat. Cara yang paling baik untuk menentukannya adalah dengan membandingkannya dengan sisi yang sehat.
2.    Nyeri di daerah yang patah dan kaku pada saat ditekan atau bila digerakkan.
3.    Bengkak, disertai memar / perubahan warna di daerah yang cedera.
4.    Terdengar suara berderak pada daerah yang patah (suara ini tidak perlu dibuktikan dengan menggerakkan bagian cedera tersebut).
5.    Mungkin terlihat bagian tulang yang patah pada luka.
Pembagian Patah Tulang
Berdasarkan kedaruratannya patah tulang dibagi menjadi 2 yaitu :
1.    Patah tulang terbuka
2.    Patah tulang tertutup
Yang membedakannya adalah lapisan kulit di atas bagian yang patah. Pada patah tulang terbuka, kulit di permukaan daerah yang patah terluka. Pada kasus yang berat bagian tulang yang patah terlihat dari luar. Perbedaannya adalah jika ada luka maka kuman akan dengan mudah sampai ke tulang, sehingga dapat terjadi infeksi tulang. Patah tulang terbuka termasuk kedaruratan segera.
Pembidaian
Penanganan patah tulang yang paling utama adalah dengan melakukan pembidaian. Pembidaian adalah berbagai tindakan dan upaya untuk mengistirahatkan bagian yang patah.
Tujuan pembidaian
1.    Mencegah pergerakan/pergeseran dari ujung tulang yang patah.
2.    Mengurangi terjadinya cedera baru disekitar bagian tulang yang patah.
3.    Memberi istirahat pada anggota badan yang patah.
4.    Mengurangi rasa nyeri.
5.    Mempercepat penyembuhan
Beberapa macam jenis bidai :
1.    Bidai keras.
Umumnya terbuat dari kayu, alumunium, karton, plastik atau bahan lain yang kuat dan ringan. Pada dasarnya merupakan bidai yang paling baik dan sempurna dalam keadaan darurat. Kesulitannya adalah mendapatkan bahan yang memenuhi syarat di lapangan.
Contoh : bidai kayu, bidai udara, bidai vakum.
1.    Bidai traksi.
Bidai bentuk jadi dan bervariasi tergantung dari pembuatannya, hanya dipergunakan oleh tenaga yang terlatih khusus, umumnya dipakai pada patah tulang paha.
Contoh : bidai traksi tulang paha
1.    Bidai improvisasi.
Bidai yang dibuat dengan bahan yang cukup kuat dan ringan untuk penopang. Pembuatannya sangat tergantung dari bahan yang tersedia dan kemampuan improvisasi si penolong.
Contoh : majalah, koran, karton dan lain-lain.
1.    Gendongan/Belat dan bebat.
Pembidaian dengan menggunakan pembalut, umumnya dipakai mitela (kain segitiga) dan memanfaatkan tubuh penderita sebagai sarana untuk menghentikan pergerakan daerah cedera.
Contoh : gendongan lengan.
Pedoman umum pembidaian
Membidai dengan bidai jadi ataupun improvisasi, haruslah tetap mengikuti pedoman umum.
1. Sedapat mungkin beritahukan rencana tindakan kepada penderita.
2. Sebelum membidai paparkan seluruh bagian yang cedera dan rawat perdarahan bila ada.
3. Selalu buka atau bebaskan pakaian pada daerah sendi sebelum membidai, buka perhiasan di daerah patah atau di bagian distalnya.
4. Nilai gerakan-sensasi-sirkulasi (GSS) pada bagian distal cedera sebelum melakukan pembidaian.
5. Siapkan alat-alat selengkapnya.
1. 6. Jangan berupaya merubah posisi bagian yang cedera. Upayakan membidai dalam posisi ketika ditemukan.
6. Jangan berusaha memasukkan bagian tulang yang patah.
7. Bidai harus meliputi dua sendi dari tulang yang patah. Sebelum dipasang diukur lebih dulu pada anggota badan penderita yang sehat.
8. Bila cedera terjadi pada sendi, bidai kedua tulang yang mengapit sendi tersebut. Upayakan juga membidai sendi distalnya.
9. Lapisi bidai dengan bahan yang lunak, bila memungkinkan.
10. Isilah bagian yang kosong antara tubuh dengan bidai dengan bahan pelapis.
11. Ikatan jangan terlalu keras dan jangan longgar.
12. Ikatan harus cukup jumlahnya, dimulai dari sendi yang banyak bergerak, kemudian sendi atas dari tulang yang patah.
13. Selesai dilakukan pembidaian, dilakukan pemeriksaan GSS kembali, bandingkan dengan pemeriksaan GSS yang pertama.
14. Jangan membidai berlebihan.
Pertolongan cedera alat gerak
1. Lakukan penilaian dini.
· Kenali dan atasi keadaan yang mengancam jiwa.
· Jangan terpancing oleh cedera yang terlihat berat.
2. Lakukan pemeriksaan fisik.
3. Stabilkan bagian yang patah secara manual, pegang sisi sebelah atas dan sebelah bawah cedera, jangan sampai menambah rasa sakit penderita.
4. Paparkan seluruh bagian yang diduga cedera.
5. Atasi perdarahan dan rawat luka bila ada.
6. Siapkan semua peralatan dan bahan untuk membidai.
7. Lakukan pembidaian.
8. Kurangi rasa sakit.
· Istirahatkan bagian yang cedera.
· Kompres es bagian yang cedera (khususnya pada patah tulang tertutup).
· Baringkan penderita pada posisi yang nyaman.
Luka Bakar
Sebab :
v Panas
v Kimia
v Listrik
v Radiasi

penggolongan 

Berdasarkan dalamnya luka bakar dibagi menjadi :
1. Luka bakar superfisial (derajat satu)
Hanya meliputi lapisan kulit yang paling atas saja (epidermis).
Ditandai dengan kemerahan, nyeri dan kadang-kadang bengkak
2. Luka bakar derajat dua (sedikit lebih dalam)
Meliputi lapisan paling luar kulit yang rusak dan lapisan dibawahnya terganggu. Luka bakar jenis ini paling sakit , ditandai dengan gelembung-gelembung pada kulit berisi cairan, bengkak, kulti kemerahan atau putih, lembab dan rusak.
3. Luka bakar derajat tiga
Lapisan yang terkena tidak terbatas, bahkan dapat sampai ke tulang dan organ dalam. Luka bakar ini paling berat dan ditandai dengan kulit biasanya kering, pucat atau putih, namun dapat juga gosong dan hitam.Dapat diikuti dengan mati rasa karena kerusakan saraf. Daerah disekitarnya nyeri. Berbeda dengan derajat satu dan dua luka bakar derajat tiga tidak menimbulkan nyeri

luas luka bakar 

Gambar rumus sembilan
Rumus telapak tangan.
Cara lain untuk menghitung luas luka bakar adalah embandingkannya dengan luas telapak tangan korban. Telapak tangan korban dianggap memiliki luas 1% luas permukaan tubuh.
Perlu diingat bahwa perhitungan luas luka bakar dihitung berdasarkan masing-masing derajat luka bakar.

derajat berat luka bakar

Derajat berat luka bakar ditentukan oleh dua faktor utama yaitu luasnya permukaan tubuh yang mengalami luka bakar dan lokasinya.

luka bakar ringan

· Luka bakar derajat tiga kurang dari 2% luas, kecuali pada wajah, tangan, kaki, kemaluan atau saluran napas
· Luka bakar derajat dua kurang dari 15%
· Luka bakar derajat satu kurang dari 50%

luka bakar sedang

· Luka bakar derajat tiga antara 2% sampai 10%, kecuali pada wajah, tangan, kaki, kemaluan atau saluran napas
· Luka bakar derajat dua antara 15% sampai 30%
· Luka bakar derajat satu lebih dari 50%

luka bakar berat

· Semua luka bakar yang disertai cedera pada saluran napas, cedera jaringan lunak dan cedera tulang
· Luka bakar derajat dua atau tiga pada wajah, tangan, kaki, kemaluan atau saluran napas
· Luka bakar derajat tiga di atas 10%
· Luka bakar derajat dua lebih dari 30%
· Luka bakar yang disertai cedera alat gerak
· Luka bakar mengelilingi alat gerak
Beberapa penyulit pada luka bakar adalah :
1. Usia penderita, biasanya mereka dengan usia kurang dari 5 tahun atau lebih dari 55 tahun. Penanganan kelompok usia ini biasanya lebih sulit.
2. Adanya penyakit penyerta. Proses penatalaksanaan sering menjadi sukar dan berkepanjangan.
Penatalaksanaan luka bakar
· Keamanan keadaan
· Keamanan penolong dan orang lain
1. Hentikan proses luka bakarnya. Alirkan air dingin pada bagian yang terkena. Bila ada bahan kimia alirkan air terus menerus sekurang-kurangnya selama 20 menit
2. Buka pakaian dan perhiasan
3. Lakukan penilaian dini
4. Berikan pernapasan buatan bila perlu
5. Tentukan derajat berat dan luas luka bakar
6. Tutup luka bakar dengan penutup luka dan pembalut longgar, jangan memecahkan gelembungnya. Bila yang terbakar adalah jari-jari maka balut masing-masing jari tersendiri
7. Upayakan penderita senyaman mungkin
Pemindahan
Saat tiba di lokasi kita mungkin menemukan bahwa seorang korban mungkin harus dipindahkan. Pada situasi yang berbahaya tindakan cepat dan waspada sangat penting. Penangan korban yang salah akan menimbulkan cedera lanjutan atau cedera baru.

MEKANIKA TUBUH

Penggunaan tubuh dengan baik untuk memfasilitasi pengangkatan dan pemindahan korban untuk mencegah cedera pada penolong.
Cara yang salah dapat menimbulkan cedera. Saat mengangkat ada beberapa hal yang harus diperhatikan :
· Rencanakan pergerakan sebelum mengangkat
· Gunakan tungkai jangan punggung
· Upayakan untuk memindahkan beban serapat mungkin dengan tubuh
· Lakukan gerakan secara menyeluruh dan upayakan agar bagian tubuh saling menopang
· Bila dapat kurangi jarak atau ketinggian yang harus dilalui korban
· Perbaiki posisi dan angkatlah secara bertahap
Hal-hal tersebut di atas harus selalu dilakukan bila akan memindahkan atau mengangkat korban. Kunci yang paling utama adalah menjaga kelurusan tulang belakang. Upayakan kerja berkelompok, terus berkomunikasi dan lakukan koordinasi.
Mekanika tubuh yang baik tidak akan membantu mereka yang tidak siap secara fisik.
MEMINDAHKAN KORBAN
Kapan penolong harus memindahkan korban sangat tergantung dari keadaan. Secara umum, bila tidak ada bahaya maka jangan memindahkan korban. Lebih baik tangani di tempat.
Pemindahan korban ada 2 macam yaitu darurat dan tidak darurat

Pemindahan Darurat

Pemindahan ini hanya dilakukan bila ada bahaya langsung terhadap korban

Contoh situasi yang membutuhkan pemindahan segera:
· Kebakaran atau bahaya kebakaran
· Ledakan atau bahaya ledakan
· Sukar untuk mengamankan korban dari bahaya di lingkungannya :
 Bangunan yang tidak stabil
 Mobil terbalik
 Kerumunan masa yang resah
 Material berbahaya
 Tumpahan minyak
 Cuaca ekstrim
· Memperoleh akses menuju korban lainnya
· Bila tindakan penyelamatan nyawa tidak dapat dilakukan karena posisi korban, misalnya melakukan RJP
Bahaya terbesar pada pemindahan darurat adalah memicu terjadinya cedera spinal. Ini dapat dikurangi dengan melakukan gerakan searah dengan sumbu panjang badan dan menjaga kepala dan leher semaksimal mungkin

Beberapa macam pemindahan darurat

· Tarikan baju
· Tarikan selimut atau kain
· Tarikan bahu/lengan
· Menggendong
· Memapah
· Membopong
· Angkatan pemadam

Pemindahan Biasa

Bila tidak ada bahaya langsung terhadap korban, maka korban hanya dipindahkan bila semuanya telah siap dan korban selesai ditangani.
Contohnya :
· Angkatan langsung
· Angkatan ekstremitas (alat gerak)

Posisi Korban

Bagaimana meletakkan penderita tergantung dari keadaannya.
· Korban dengan syok
· Tungkai ditinggikan
· Korban dengan gangguan pernapasan
· Biasanya posisi setengah duduk
· Korban dengan nyeri perut
· Biasanya posisi meringkuk seperti bayi
· Posisi pemulihan
· Untuk korban yang tidak sadar atau muntah
Tidak mungkin untuk membahas semua keadaan. Situasi di lapangan dan keadaan korban akan memberikan petunjuk bagaimana posisi yang terbaik.

Peralatan Evakuasi

· Tandu beroda
· Tandu lipat
· Tandu skop / tandu ortopedi/ tandu trauma
· Vest type extrication device (KED)
· Tandu kursi
· Tandu basket
· Tandu fleksibel
· Kain evakuasi
· Papan spinal
Kedaruratan
Semua yang dialami korban yang tidak tergologn dalam kecelakaan dimasukan dalam kelompok kedaruratan medis. Seseorang yang mengalami kasus medis mungkin juga dapat mengalami cedera sebagai akibat dari gejala gangguan fungsi tubuh yang terjadi misalnya kehilangan kesadaran lalu terjatuh sehingga terjadi suatu luka.
Dalam penatalaksanaan Pertolongan Pertama kasus medis tidak banyak berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Hal yang paling penting adalah mengenali kedaruratannya, terutama secara dini. Kesimpulan mengenai keadaan yang dihadapi hampir 80% diperoleh berdasarkan wawancara dengan penderita bila sadar, keluarganya atau saksi mata dan sumber informasi lainnya. Dalam penatalaksanaan penderita yang paling penting adalah menjaga jalan napas dan memantau tanda vital penderita secara teratur.
Gejala dan tanda pada kedaruratan medis.
Gejala dan tanda pada kedaruratan medis sangat beragam, khas maupun tidak khas. Perubahan yang tidak normal dari tanda vital penderita sudah mengarah pada kedaruratan medis. Beberapa hal yang dapat diamati pada penderita yang mengarahkan kecurigaan kita pada adanya masalah medis adalah :
Gejala :
1. Demam
2. Nyeri
3. Mual, muntah
4. Buang air kecil berlebihan atau tidak sama sekali
5. Pusing, perasaan mau pingsan, merasa akan kiamat
6. Sesak atau merasa sukar bernapas
7. Rasa haus atau lapar berlebihan, rasa aneh pada mulut
Tanda :
1. Perubahan status mental (tidak sadar, bingung)
2. Perubahan irama jantung : nadi cepat atau sangat lambat, tidak teratur, lemah atau sangat kuat.
3. Perubahan pernapasan: irama dan kualitas warna pada selaput lendir (pucat, kebiruan, terlalu merah)
4. Perubahan keadaan kulit : suhu, kelembaban, keringat berlebihan, sangat kering, termasuk perubahan warna pada selaput lendir (pucat, kebiruan, terlalu merah)
5. Manik mata : sangat lebar, atau sangat kecil
6. Bau khas dari mulut atau hidung
7. Aktivitas otot misalnya kejang atau kelumpuhan
8. Gangguan saluran cerna : mual, muntah atau diare
9. Tanda-tanda lainnya yang seharusnya tidak ada.
Anggap semua keluhan penderita adalah benar. Bila penderita merasa tidak enak atau nyaman maka perlakukan sebagai kasus medis
Beberapa gangguan medis yang umum ditemukan adalah :
1. Pingsan (Syncope/collapse) :
Terjadi karena peredaran darah yang ke organ otak berkurang, yang dapat terjadi akibat emosi yang hebat, berada dalam ruangan yang penuh orang tanpa udara segar yang cukup, letih dan lapar, terlalu banyak mengeluarkan tenaga.
Gejala dan tanda:
1. Perasaan limbung.
2. Pandangan berkunang-kunang dan telinga berdenging.
3. Lemas, keluar keringat dingin.
4. Menguap.
5. Dapat menjadi tidak ada respon, yang biasanya berlangsung hanya beberapa menit.
6. Denyut nadi lambat.
Penatalaksanaan :
1. Baringkan penderita dengan tungkai ditinggikan.
2. Longgarkan pakaian.
3. Usahakan penderita menghirup udara segar.
4. Periksa cedera lainnya.
5. Beri selimut, agar badannya hangat.
6. Bila pulih, usahakan istirahatkan beberapa menit.
7. Bila tidak cepat pulih, maka:
- periksa napas dan nadi.
- posisikan stabil.
- bawa ke fasilitas kesehatan
2. Paparan panas
Panas dapat mengakibatkan gangguan pada tubuh. Umumnya ada 3 macam gangguan yang terjadi:
A. Kram panas
Terjadi akibat kehilangan garam tubuh yang berlebihan melalui keringat.
Gejala dan Tanda:
1. Kejang pada otot yang disertai nyeri
2. Tungkai dan perut.
3. Kelelahan.
4. Mual
5. Mungkin pingsan
Penatalaksanaan :
1. Baringkan penderita di tempat teduh.
2. Beri minum kepada penderita, bila perlu campur sedikit garam. JANGAN MEMBUANG WAKTU UNTUK MENCARI GARAM.
3. Rujuk ke fasilitas kesehatan.
B. Kelelahan Panas
Terjadi akibat kondisi yang tidak fit pada saat melakukan aktivitas di lingkungan yang suhu udaranya relatif tinggi, yang mengakibatkan terganggunya aliran darah.
Gejala dan tanda :
1. Pernapasan cepat dan dangkal.
2. Nadi lemah.
3. Kulit teraba dingin, keriput, lembab dan selaput lendir pucat
4. Pucat, keringat berlebihan.
5. Lemah.
6. Pusing, kadang tidak repon.
Penatalaksanaan :
1. Baringkan penderita di tempat yang teduh.
2. Kendorkan pakaian yang mengikat.
3. Tinggikan tungkai penderita sekitar 20 – 30 cm.
4. Berikan oksigen bila ada.
5. Beri minum bila penderita sadar.
6. Rujuk ke fasilitas kesehatan.
Sengatan Panas
Merupakan keadaan yang mengancam nyawa. Suhu tubuh menjadi terlalu tinggi dan pada banyak kasus penderita tidak lagi berkeringat. Bila tidak diatasi dengan segera, maka sel otak akan segera mati.
Gejala dan tanda:
1. Pernapasan cepat dan dalam.
2. Nadi cepat dan kuat diikuti nadi cepat tetapi lemah.
3. Kulit teraba kering, panas kadang kemerahan
4. Manik mata melebar.
5. Kehilangan kesadaran.
6. Kejang umum atau gemetar pada otot.
Penatalaksanaan :
1. Turunkan suhu tubuh penderita secepat mungkin.
2. Letakkan kantung es pada ketiak, lipat paha, dibelakang lutut dan sekitar mata kaki serta di samping leher.
3. Bila memungkinkan, masukkan penderita ke dalam bak berisi air dingin dan tambahkan es ke dalamnya.
4. Rujuk ke fasilitas kesehatan.
3. Paparan dingin (Hipotermia)
Udara dingin dapat menyebabkan suhu tubuh menurun. Suhu lingkungan tidak perlu sampai beku untuk mencetuskan hipotermia. Ada beberapa keadaan yang memperburuk hipotermia yaitu faktor angin dan kekurangan makanan.
Gejala dan tanda
Hipotermia sedang :
1. Menggigil.
2. Terasa melayang.
3. Pernapasan cepat, nadi lambat.
4. Gangguan penglihatan.
5. Reaksi mata lambat.
6. Gemetar.
Hipotermia berat :
1. Pernapasan sangat lambat.
2. Denyut nadi sangat lambat.
3. Tidak ada respon.
4. Manik mata melebar dan tidak bereaksi.
5. Alat gerak kaku.
6. Tidak menggigil.
Penanganan hipotermia:
Rawat penderita dengan hati hati, berikan rasa nyaman.
1. Penilaian dini dan pemeriksaan penderita.
2. Pindahkan penderita dari lingkungan dingin.
3. Jaga jalan napas dan berikan oksigen bila ada.
4. Ganti pakaian yang basah, selimuti penderita, upayakan agar tetap kering.
5. Bila penderita sadar dapat diberikan minuman hangat secara pelan pelan.
6. Pantau tanda vital secara berkala.
7. Rujuk ke fasilitas kesehatan.
Keracunan
Pengertian:
Racun adalah suatu zat yang bila masuk dalam tubuh dalam jumlah tertentu dapat menyebabkan reaksi tubuh yang tidak diinginkan bahkan dapat menimbulkan kematian.
Dalam keadaan sehari-hari ada beberapa zat yang sering digolongkan sebagai racun namun sebenarnya bahan ini adalah korosif, yaitu dapat menyebabkan luka bakar pada bagian tubuh dalam bila masuk ke dalam tubuh. Penatalaksanaan penderita pada kasus ini biasanya disamakan dengan keracunan.
Cara terjadinya Keracunan pada manusia:
A. Sengaja bunuh diri
Dengan minum obat-obatan/cairan kimia dalam jumlah yang berlebihan misalnya minum racun serangga, obat tidur berlebihan. Sering berakhir dengan kematian, kecuali penemuan kasus keracunan tersebut cepat dan langsung mendapat pertolongan.
B. Keracunan tidak disengaja
Misalnya:
a. Makan makanan/minuman yang telah tercemar oleh kuman/ zat kimia tertentu.
b. Salah minum yang biasanya terjadi pada anak-anak/orang tua yang sudah pikun misalnya obat kutu anjing disangka susu dan sebagainya.
c. Makan singkong yang mengandung kadar sianida tinggi.
d. Udara yang tercemar gas beracun.
Jalur masuknya racun dalam tubuh manusia
1. Melalui mulut/alat pencernaan.
a. Obat-obatan terutama obat tidur/penenang, biasanya dalam jumlah besar atau diminum dengan bahan lain sehingga terjadi reaksi keracunan
b. Makanan yang mengandung racun misalnya: singkong, jengkol, tempe bongkrek, oncom, makanan kaleng yang kadaluarsa.
c. Baygon, minyak tanah, zat pembunuh serangga lainnya.
d. Makanan atau minuman yang mengandung alkohol (bir, minuman keras)
a. Perhatikan sekitar penderita mungkin ditemukan petunjuk mengenai sebab keracunannya, misalnya botol obat, pembungkus, sisa makanan, sisa muntahan.
2. Melalui pernapasan.
a. Menghirup gas beracun/udara beracun (mis. gas mobil dalam kendaraan yangtertutup).
b. Kebocoran gas industri.
3. Melalui kulit atau absorbsi (kontak)
Zat kimia/tanaman beracun yang terpapar melalui permukaan kulit dan dapat meresap ke dalam kulit tersebut.
Keracunan ini dapat juga terjadi akibat tersentuh binatang yang memiliki racun pada kulit atau bagian tubuh lainnya.
4. Melalui suntikan atau gigitan
a. Gigitan / sengatan binatang berbisa (ular, kalajengking, dll.).
b. Gigitan binatang laut (ubur-abur, anemon, ketimun laut, gurita, tiram dll).
c. Obat suntik
Gejala dan tanda keracunan secara umum
Gejala dan tanda keracunan yang khas biasanya sesuai dengan jalur masuk racun ke dalam tubuh. Bila masuk melalui saluran pencernaan, maka gangguan utama akan terjadi pada saluran pencernaan. Bila masuk melalui jalan napas maka yang terganggu adalah pernapasannya dan bila melalui kulit akan terjadi reaksi setempat lebih dahulu. Gejala lanjutan yang terjadi biasanya sesuai dengan sifat zat racun tersebut terhadap tubuh.
Gejala dan tanda keracunan umum :
a. Riwayat yang berhubungan dengan proses keracunan
b. Penurunan respon
c. Gangguan pernapasan
d. Nyeri kepala, pusing, gangguan penglihatan
e. Mual, muntah, diare
f. Lemas, lumpuh, kesemutan
g. Pucat atau sianosis
h. Kejang-kejang
i. Gangguan pada kulit
j. Bekas suntikan, gigitan, tusukan
k. Syok
l. Gangguan irama jantung dan peredaran darah pada zat tertentu.
Penatalaksanaan keracunan secara umum :
1. Pengamanan sekitar, terutama bila berhubungan dengan gigitan binatang.
2. Pengamanan penderita dan penolong terutama bila berada di daerah dengan gas beracun.
3. Keluarkan penderita dari daerah berbahaya bila memungkinkan.
4. Penilaian dini, bila perlu lakukan RJP.
5. Bila racun masuk melalui jalur kontak, maka buka baju penderita dan bersihkan sisa bahan beracun bila ada
6. Bila racun masuk melalui saluran cerna, uapayakan mengencerkan racun .
7. Awasi jalan napas, terutama bila respon menurun atau penderita muntah.
8. Bila keracunan terjadi secara kontak maka bilaslah daerah yang terkena dengan air.
9. Bila ada petunjuk seperti pembungkus, sisa muntahan dan sebagainya sebaiknya diamankan untuk identifikasi.
10. Penatalaksanaan syok bila terjadi
11. Pantaulah tanda vital secara berkala.
12. Bawa ke fasilitas kesehatan
Incident Command System dan Triage

incident command system (ics)

Di sini tidak akan dijelaskan secara rinci mengenai hal ini karena bahasan ini merupakan suatu topik pelatihan sendiri. Perlu diketahui oleh penolong bahwa sistem ini sebenarnya sudah ada dan baku, pelaksanaannya tergantung dari masing-masing daerah.
Di Indonesia ICS ini sering dikenal sebagai POSKO, yang tugas dasarnya adalah mengatur penanggulangan korban banyak atau bencana. Bagaimana melakukan pemilahan korban, bagaimana dan kemana korban di evakuasi, menggunakan apa, siapa yang bertugas di mana, kemana dan semua hal lain yang berhubungan dengan pengaturan di lokasi.
Secara umum pada penanggulangan korban banyak perlu di atur tempat sedemikian rupa sehingga ada :
1. Daerah triage
Pada dasarnya daerah ini merupakan areal kejadian.
2. Daerah pertolongan
Setelah pasien ditentukan triagenya maka dipindahkan ke daerah penampungan di mana pertolongan diberikan.
3. Daerah transportasi
Pada daerah ini berkumpul semua kendaraan yang akan digunakan untuk mengevakuasi para korban, termasuk pencatatan data pengiriman korban.
4. Daerah penampungan penolong dan peralatan.
Pada daerah ini para penolong yang baru datang atau sudah bekerja berkumpul, di data dan di atur pembagian kerjanya. Bila kejadiannya besar maka daerah penampungan juga diperlukan untuk peralatan, barang-barang lainnya.

Peran Penolong Pertama

Sebagai penolong kita harus mengetahui sistem yang ada, terutama apa yang harus dilakukan pada fase awal, pada dasarnya penolong harus :
1.    Mendirikan Posko dan komandonya
2.    Menilai keadaan
3.    Meminta bantuan sesuai keperluan
4.    Mulai melakukan triage

Penilaian keadaan

Setelah menentukan suatu kejadian sebagai kasus dengan korban banyak maka hal yang paling penting dilakukan adalah menahan diri untuk tidak langsung memberikan pertolongan kepada perorangan. Nilai hal-hal sebagai berikut :
1.    Keadaan
2.    Jumlah penderita
3.    Tindakan khusus
4.    Sumber daya yang kira-kira akan diperlukan
5.    Hal lain yang dapat berdampak pada situasi dan kondisi
6.    Berapa banyak sektor yang diperlukan
7.    Wilayah atau areal penampungan
Buat suatu laporan singkat, sehingga bantuan yang akan datang akan sesuai dengan keperluan.

Triage

Triage berasal dari bahasa Perancis yang berarti pemilahan. Dalam dunia medis istilah ini dipergunakan untuk tindakan pemilahan korban berdasarkan prioritas pertolongan atau transportasinya.
Prinsip utama dari triage adalah menolong para penderita yang mengalami cedera atau keadaan yang berat namun memiliki harapan hidup.
Salah satu metode yang paling sederhana dan umum digunakan adalah metode S.T.A.R.Tatau Simple Triage and Rapid Treatment. Metode ini membagi penderita menjadi 4 kategori :
1. Prioritas 1 – Merah
Merupakan prioritas utama, diberikan kepada para penderita yang kritis keadaannya seperti gangguan jalan napas, gangguan pernapasan, perdarahan berat atau perdarahan tidak terkontrol, penurunan status mental
2. Prioritas 2 – Kuning
Merupakan prioritas berikutnya diberikan kepada para penderita yang mengalami keadaan seperti luka bakar tanpa gangguan saluran napas atau kerusakan alat gerak, patah tulang tertutup yang tidak dapat berjalan, cedera punggung.
3. Prioritas 3 – Hijau
Merupakan kelompok yang paling akhir prioritasnya, dikenal juga sebagai ‘Walking Wounded” atau orang cedera yang dapat berjalan sendiri.
4. Prioritas 0 – Hitam
Diberikan kepada mereka yang meninggal atau mengalami cedera yang mematikan.
Pelaksanaan triage dilakukan dengan memberikan tanda sesuai dengan warna prioritas. Tanda triage dapat bervariasi mulai dari suatu kartu khusus sampai hanya suatu ikatan dengan bahan yang warnanya sesuai dengan prioritasnya. Jangan mengganti tanda triage yang sudah ditentukan. Bila keadaan penderita berubah sebelum memperoleh perawatan maka label lama jangan dilepas tetapi diberi tanda, waktu dan pasang yang baru.

Pelaksanaan Triage Metode S.T.A.R.T

Untuk memudahkan pelaksanaan triage maka dapat dilakukan suatu pemeriksaan sebagai berikut :
1. Kumpulkan semua penderita yang dapat / mampu berjalan sendiri ke areal yang telah ditentukan, dan beri mereka label HIJAU.
2. Setelah itu alihkan kepada penderita yang tersisa periksa :
3. Pernapasan :
a. Bila pernapasan lebih dari 30 kali / menit beri label MERAH.
b. Bila penderita tidak bernapas maka upayakan membuka jalan napas dan bersihkan jalan napas satu kali, bila pernapasan spontan mulai maka beri labelMERAH, bila tidak beri HITAM.
c. Bila pernapasan kurang dari 30 kali /menit nilai waktu pengisian kapiler.
4. Waktu pengisian kapiler :
a. Lebih dari 2 detik berarti kurang baik, beri MERAH, hentikan perdarahan besar bila ada.
b. Bila kurang dari 2 detik maka nilai status mentalnya.
c. Bila penerangan kurang maka periksa nadi radial penderita. Bila tidak ada maka ini berarti bahwa tekanan darah penderita sudah rendah dan perfusi jaringan sudah menurun.
5. Pemeriksaan status mental :
a. Pemeriksaan untuk mengikuti perintah-perintah sederhana
b. Bila penderita tidak mampu mengikuti suatu perintah sederhana maka beriMERAH.
c. Bila mampu beri KUNING.
y
o Obat luka baru seperti Bethadine
o Dll
2. Peralatan
Buku petunjuk P3K
Mitella (pembalut segitiga)
Plester
Kasa steril dan kapas
Perban
Gunting, pinset, pisau kecil
Cotton bud, jarum kecil dan peniti
Lampu senter
Dll
MENGATASI HENTI NAPAS DAN HENTI JANTUNG
Ada beberapa kemungkinan mengapa orang tidak bernafas:
1. Jalan nafas tersumbat misal karena muntah dan pendarahan
2. Jalan napas membengkak misal karena keracunan gas
3. Kelumpuhan alat pernapasan msal karena terkena aliran listrik atau keracunan
Cara mengatasinya adalah :
1. Bebaskan jalan napas. Baringkan korban telentang, kepala dimiringkan, buka mulut dan ambil sumbatan yang ada didalamnya dengan 2 jari.
2. Buka jalan napas yang selebar-lebarnya dengan cara mendorong dahi ke belakang sehingga posisi leher menjadi lurus atau dengan memberi bantalan di bawah bahu tetapi jangan dibawah kepala karena leher akan tertekuk.
3. Berikan napas buatan dari mulut ke mulut. Buka mulut kita lebar lebar dan tempelkan pada mulut korban, pijit hidung korban dan hembuskan napas ke dalam saluran napas penderita bila dada korban mengembang berarti udara telah mencapai rongga paruparu, lepaskan bibir anda supaya terjadi pelepasan udara secara pasif dari paru-paru. Lakukparu :
1. Baringkan korban telentang dengan alas datar dan cukup keras, dorong dahi ke atas sehingga leher menjadi lurus.
2. Cari ujung dada iga bagian depan (2 jari diatas ujung dada) lakukan pijat jantung.
3. Letakkan pangkal telapak tangan di daerah tersebut dan telapak tangan yang lain menumpang pada tangan utama tetapi siku dalam kondisi lurus, tekan secara menghentak dan kendurkan secara perlahan-lahan.
4. Ulangi cara tersebut sampai korban bernapas.
5. Hal itu harus kita kombinaikan dengan pernapasan buatan dengan komposisi 2 kali napas buatan kemudian 15 kali pijat jantung.
GANGGUAN UMUM
Adalah terganggunya fungsi seluruh tubuh akibat suatu kecelakaan.
Macam gangguan umum :
1. Lena
Penyebab berkurangnya peredaran darah ke otak yang disebabkan oleh emosi yang hebat, rasa nyeri, keadaan lemah setelah sakit, terlampau banyak mengeluarkan tenaga dalam kondisi perut kosong,
Gejala yang timbul pada korban seperti :
Pusing, telinga berdenging, mual, mata berkunang-kunang, keluar keringat dingin, dan denyut nadi lemah.
Pertolongan :
Tidurkan telentang korban dan kepala agak rendah, longgarkan pakaian dan usahakan korban menghirup udara segar. Kemudian beri selimut agar badan segar kembali. Setelah korban sadar dan dapat minum beri kopi hangat atau sedikit anggur.
2. Gugat ( Shock)
Disebabkan karena jumlah darah yang beredar dalam pembuluh darah sangat kurang dan merupakan kelanjutan dari lena.
Gejala yang timbul pada korban :
Seperti gejala pada lena, yang banyak disebabkan oleh pendarahan (ke luar maupun ke dalam) dan luka bakar yang cukup luas sehingga korban pingsan.
Pertolongan :
Baringkan korban di tempat yang segar udaranya dengan kepala lebih rendah dari kaki (kecuali jika ada luka di kepala), tenangkan korban dan hentikan pendarahan yang terjadi dan secepatnya dibawa ke Rumah sakit.
3. Pingsan
Kondisi dimana fungsi otak terganggu sedemikian rupa sehingga korban tidak sadarkan diri.
Gejala yang timbul :
Tidak menyahut jika dipanggil, tidak bereaksi saat diberi rangsangan, biasanya korban terbaring tidak bergerak tetapi pernapasan dan denyut nadi ada.
Pertolongan :
Baringkan korban di tempat teduh dan segar, miringkan kepala korban supaya korban muntah, longgarkan pakaiannya dan selimuti agar tidak kedinginan, dan scepatnya bawa korban ke RS untuk mendapat pertolongan lebih lanjut.
4. Mati Suri
Adalah keadaan lanjut dari pingsan dimana pernapasan tidak nampak, denyut nadi hilang, biji mata melebar dan tidak bereaksi terhadap penyinaran, muka pucat agak kebiruan.
Pertolongan :
Baringkan korban telentang, dan longgarkan pakaian korban; hilangkan segala barang yang dapat menyumbat pernapasan kemudian lakukan pernapasan buatan atau kalau perlu pijat jantung. Segera hubungi dokter untuk penanggulangan lebih
lanjut.
5. Penyakit Pegunungan
Sering disebut Mountain Sickness yang diakibatkan makin berkurangnya kadar oksigen pada daerah yang tinggi yang akan mempengaruhi aktivitas pendaki karena kekurangan suplai oksigen atau hipoksia.
Gejala :
Korban pusing, letih, rasa kantuk yang hebat, mual, pucat, sesak napas, kemudian tubuh menjadi panas, perasaan gelisah, telinga berdenging, dan sukar tidur.
Pertolongan :
Beri istirahat yang cukup sehari atau dua hari, bila tidak ada perubahan bawa korban ke tempat yang lebih rendah.
6. Gangguan Setempat
Adalah kecelakaan yang terasa sakit pada bagian tubuh yang terkena.
Macam gangguan setempat :
1. Luka
Dapat terjadi dimana saja dan disebabkan oleh benda tumpul atau tajam.
Macam-macam luka :
Luka iris
Luka tusuk
Luka memar
Luka robek
Pertolongan yang harus diberikan dengan menghentikan perdarahan mencegah infeksi dan kerusakan lebih lanjut dengan cara-cara yang mudah dan cepat.
2. Luka gigitan ular
Untuk jenis ulat Colubridae (ular belang, sendok/kobra), tanda-tanda gigitannya tidak begitu jelas tetapi langsung mempengaruhi susunan saraf. Biasanya disertai sesak napas dan luka gigitan udak terasa tetapi sangat mematikan.
Untuk jenis ular Viperidae (ular puspa, ular tanah), tanda-tandanya gigitannya akan menimbulkan bercak darah diseluruh tubuh disertai batuk dan kencing darah karena mempengaruhi sistemperedaran darah. Luka gigitannnya terasa nyeri dan bengkak.
Berdasarkan tipe gigi bisa, ular dikelompokkan menjadi 4 bagian, yaitu :
Aglypha : tidak mempunyai gigi bisa, seperti sanca
Phistoglypha : mempunyai gigi bisa dibelakang, misalnya ular cincin emas
Proteroglypha : mempunyai gigi bisa didepan yang efektif untuk menyalurkan bisa
Solenoglipha : mempunyai gigi bisa di depan dan dapat dilipat. Umumnya gigi bisa dapat dilipat.
Macam-macam bisa :
Neurotoksin : menyerang saraf dan bersifat bertentangan dengan transmisi jaringan syarag. Menybabkan kelumpuhan pada alat pernafasan dan rusaknya jeringan otak.
Hemotoksin : menyerang darah dan sistem peredarannya, menguraikan protein, menyebabkan sel darah rusak.
Kardiotoksin : menyerang otot jantung
Miktotoksin : menyerang cairan tubuh
Pertolongan :
Baringkan korban, letakkan bagian yang digigit lebih rendah dari jantung, kurangi aktivitas korban untuk mencegah penyebaran bisa. Kenakan torniquet di atas luka gigitan dan kendurkan 15 sampai 30 detik, perbesar luka gigitan dengan pisau steril dan isap luka untuk mengeluarkan bisa dari darah (mulut penolong tidak boleh ada luka). Tutup luka dengan kasa steril dan beri betadine kemudian dibalut. Bawa ke RS terdekat. Khusus luka gigitan serangga (kalajengking, kelabang, laba-laba, dll) pertolongan yang dilakukan adalah :
Olesi luka dengan amonia atau kapur sirih, kompres dengan es atau soda kue (untuk gigitan kalajengking) dan cuci dengan anti septik. Oleskan balsam/obat gosok untuk mengurangi rasa sakit dan segera dibawa ke RS.
Jika kita mengamati dengan teliti, ada beberapa hal yang dapat membedakan ular yang berbisa tinggi dan berbisa rendah. Beberapa ciri dibawah adalah petunjuk umum yang bisa digunakan, meskipun belum secara tepat menunjukkan tingkatan bisa ular.
a. Ular berbisa rendah
§ Gerakannya cepat, takut pada musuh, agresif
§ Beraktifitas pada siang hari (diurnal)
§ Membunuh mangsanya dengan membelit
§ Bentuk kepalanya bulat telur (oval)
§ Tidak memiliki taring bisa
§ Gigitannya tidak mematikan
§ Setelah menggigit langsung lari
b. Ular berbisa tinggi
§ Gerakannya lambat, tenang, penuh percaya diri
§ Beraktifitas pada malam hari (nocturnal)
§ Membunuh mangsanya dengan menyuntikkan bisa
§ Bentuk kepalanya cenderung segitiga sempurna
§ Memiliki taring bisa, racun mematikan
§ Kanibal
§ Setelah menggigit, masih tinggal ditempat
c. Pengecualian
Berikut ini yang tidak sesuai dengan ketentuan
- berbisa tinggi, tetapi kepalanya oval (bulat telur), agresif, keluar siang, malam :
1. Ular King Kobra – Ophiophagus hannah , kepala oval, agresif, siang dan malam
2. Ular Kobra Naja naja sputratix, berbisa tinggi, tetapi kepala oval, gerakan tenang
3. Ular weling – Bungarus candidus, kepala oval, berbisa tinggi
4. Ular welang – Bungarus fasciatus, kepala oval, gerakan tenang, berbisa tinggi
5. Ular picung/pudak seruni – berbisa tinggi, kepala oval tapi gerakannya gesit, keluar siang hari.
6. Semua jenis ular laut, berbisa, gerakan lamban di pasir/pantai
7. Semua jenis ular phyton dan ular boa, tidak berbisa, cari makan malam hari.
3. Sengatan Binatang
Pertolongan :
Ambil sengat yang tertinggal, cuci bekas sengatan dengan air garam kemudian air hangat beberapa kali. Untuk ubur-ubur dengan alkohol, amoniak atau dengan aseton. Oleskan obat gosok untuk mengurangi rasa sakit.
4. Patah tulang
Macam patah tulang : terbuka (tulang menonjol keluar dan berhubungan langsung dengan udara luar) dan tertutup.
Tanda-tanda patah tulang : sakit pada bagian yang patah bila tersentuh atau digerakkan, tidak bisa digerakkan, sekitar luka bengkak dan kebiruan atau tulang mencuat keluar.
Pertolongan :
Pada luka tertutup tidak perlu membuka pakaian yang menutupi seperti pada patah tulang terbuka. Bila terjadi perdarahan lakukan perawatan, lakukan pembidaian yang ditentukan, dan segera bawa ke RS.
Syarat pembidaian :
Panjang bidai cukup untuk luka
Bidai harus pipih, lembut, dan empuk
Ikatan cukup jumlahnya dan tidak terlalu ketat atau longgar
Ikatan dilakukan pada atas dan bawah luka
5. Pendarahan
Cara menghentikan pendarahan :
o Tekan ditempat pendarahan dengan setumpuk kasa steril atau kain bersih dilipat tebal, tutup daerah luka dan tekan, segera bawa ke RS. Selama itu angkat bagian yang terluka lebih tinggi dari letak jantung.
o Tekan pada tempat-tempat tertentu, seperti pangkal pembuluh nadi yang terluka.
o Tekan dengan torniquet. Torniquet adalah balutan yang menjepit sehingga aliran darah dibawahnya terhenti. Caranya :
a. Buat ikatan pada anggota tubuh yang cidera
b. Selipkan batang kayu dibawah ikatan tersebut
c. Kencangkan dengan memutar kayu tersebut
d. Agar kedudukan kayu tidak berubah, ikat ujung satunya
Torniquet hanya dilakukan pada luka pendarahan hebat, kendurkan selama 30 detik tiap 10 menit.
6. Terkilir
Disebabkan adanya hentakan yang keras terhadap sebuah sendi dengan arah yang salah sehingga jaringan pengikat antara tulang rusak dan menimbulkan pendarahan yang menggumpal dibawah kulit, menyebabkan pembengkakan.
Pertolongan :
Kompres bagian yang terluka dengan es selama 30 menit dan balut dengan pembalut elastis atau mitella.
7. Keracunan
Racun yang ditelan
a. Makanan. Tindakan utama adalah dengan mengusahakan makanan yang ditelan keluar dengan menekan langit-langit tenggorokannya dengan jari. Kemudian beri norit atau arang yang telah ditumbuk dan dilarutkan ke air.
b. Alkohol. Usahakan agar muntah dan bilas lambung dengan soda kue (1 sendok teh dalam segelas air) tiap jam. Dapat pula diberikan kopi pekat.
c. Obat. Usahakan korban muntah dan beri kopi pekat. Bilas lambung dengan usu atau soda kue, rangsang supaya korban muntah. Bila racun termakan lebih dari 3 jam pembilasan lambung tidak boleh dilakukan apabila racunnya bersifat korosif seperti korosif sepert asam, basa keras, bensin dan minyak tanah.
Racun yang terisap
Pertolongannya : singkirkan korban dari tempat keracunan ke tempat berudara segar dan berikan pernapasan buatan.
Racun melalui kulit
Pertolongannya : lepas pakaian yang terkena racun dan bilas kulit dengan air mengalir.
Teknik membalut dan evakuasi
1. Teknik membalut
o Membalut dengan mitella
Mitella terbuat dari kain yang berbentuk segitiga sama kaki dengan panjang 90 cm.
Membalut dengan Pembalut Pita
Cara-cara membalut dengan Pembalut Pita lihat gambar (lampiran)
2. Teknik Evakuasi
o Jarak dekat
Apabila korban tidak menunjukkan tanda-tanda patah tulang leher, tulang belakang, tulang tengkorak, dan gegar otak; maka korban dapat ditarik.
Melalui lorong sempit
Apabila korban pingsan dan harus kita bawa keluar dari terowong atau lorong, ikat tangan korban dan gantungkan pada leher penolong, penolong merangkak.
Dengan selimut :
Digunakan untuk mengusung korban yang pingsan sebagai ganti tandu.
Korban yang sadar tetapi tidak bisa jalan sendiri dapat kita usung.
Korban yang memerlukan sedikit bantuan karena korban mampu berjalan sendiri sehingga tidak memerlukan bantuan.
Menggunakan tandu.
DAFTAR PUSTAKA
Diktat Pendidikan Dasar Astacala. Diakses pada http://astacala.org/astacala/diktat.pdf tanggal 11 Oktober 2008.
Rahmanta, Amsi. 2008. PPGD. Diakses pada http://mapalamahesa.multiply.com/journal/item/20/PPGD tanggal 15 Oktober 2008.
Serpiente Snakes. Biologi Ular. Diakses pada http://serpientesnakes.wordpress.com/save-our-snakes/biologi-ular/ tanggal 15 Oktober 2008.
Sioux. 2008. Tips : Membedakan Jenis Ular Berdasarkan Kemampuan Bisa (Racun). Diakses pada http://siouxindonesia.multiply.com/journal tanggal 15 Oktober 2008.

nya pada saat
perjalanan saja tetapi harus kita nikmati pula setelah perjalanan. Untuk tujuan itu ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan perjalanan kita yakni :
1.  April 2010

Dalam perjalanan, kesehatan merupakan komponen utama yang harus kita perhatikan baik secara individu maupun secara kelompok. Kesehatan ini tidak hanya pada saat
perjalanan saja tetapi harus kita nikmati pula setelah perjalanan. Untuk tujuan itu ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan perjalanan kita yakni :
1. Persiapan fisik
Diluar peralatan dan perlengkapan, fisik dan kesegaran jasmani membutuhkan persiapan yang tak kalah pentingnya. Fisik yang baik tidak bisa dicapai dalam waktu yang singkat tetapi harus dengan latihan yang teratur dan kontinyu. Dasar yang paling penting bagi pendaki gunung adalah tenaga aerobik, sebab kegiatannya sangat dipengaruhi oleh suplai oksigen melalui peredaran darah ke otot-otot badan. Oleh karena itu harus dilakukan latihan-latihan aerobik secara teratur seperti lari atau bersepeda. Selain aerobik, kekuatan dan ketahanan otot juga perlu dilatih. Otot-otot itu adalah otot bahu, punggung, pinggang, dan kaki. Hal ini dapat dilatih dengan menggunakan beban seperti mengangkat barbel dan sejenisnya.
2. Persiapan Mental
Meskipun mental seseorang akan terbentuk dengan sendirinya dan sudah bawaan lahir, tetapi pengembangannya dapat dilakukan secara perlahan-lahan dalam waktu yang panjang, yang salah satunya dengan meningkatkan latihan fisik. Keseimbangan antara faktor fisik dan mental harus selalu kita usahakan baik dalam perjalanan maupun kehidupan sehari-hari. Khusus untuk alam bebas kita harus percaya pada kemampuan kita untuk menangani segala hal. Motivasi yang baik dapat juga meningkatkan mental. Mendorong motivasi seseorang merupakan hal yang cukup susah, karena kita harus tahu segala hal mengenai pribadi, pembawaan, sifat dan kegemaran orang tersebut. Hal ini harus kita lakukan secara hati-hati dan perlahan-lahan sehingga tidak menyinggung perasaan yang menimbulkan antipati dan mematikan motivasi.
3. Daya Tahan Tubuh
Daya tahan tubuh ini sangat dipengaruhi beberapa faktor antara lain :
a. Kebutuhan oksigen
Oksigen merupakan komponen yang sangat penting bagi proses penyediaan energi dalam tubuh yang diolah dari makanan. Seringkali harus kita lakukan aklimatisasi untuk menyesuaikan kemampuan tubuh dengan kadar oksigen disuatu tempat.
Kebutuhan cairan
Dalam kondisi normal manusia tidak dapat hidup tanpa air. Manusia dapat hidup 3 hari tanpa air, tetapi dapat pula mencapai 8 hari dalam suhu 20 sampai 30 derajat.
Makanan
Untuk aktifitas alam terbuka jumlah kalori yang diperlukan seseorang adalah 2500 s/d 3500 kalori per hari. Sumber makanan yang dapat kita peroleh untuk kondisi di atas adalah karbohidrat, lemak, dan protein; dengan komposisi 75% karbohidrat dan 25% lemak.
Suhu lingkungan
Suhu lingkungan sangat mempengaruhi daya taha tubuh, karena akan berpengaruh langsung pada kondisi tubuh yang akan dapat menyebabkan kematian pada suhu dingin dan kejang-panas atau kematian pada suhu panas. Suhu tubuh manusia lebih mudah menyesuaikan pada suhu panas daripada suhu dingin, karena suhu lingkungan yang rendah mengakibatkan kalori yang diperlukan oleh tubuh lebih besar untuk mempertahankan suhu tubuh tetap normal.
Perhitungan Kalori dalam Persiapan Perjalanan
Penentuan menu bahan makanan bukanlah hal yang bisa disepelekan bila melakukan kegiatan di alam bebas dalam jangka waktu lama (>4 hari). Karena bahan yang kita bawa akanlangsung mempengaruhi keefektifan kita berkegiatan dan juga gizi yang diperlukan tubuh kita.
Nutrisi yang diperlukan tubuh per hari :
65 % Karbohidrat (HA)
20 % Lemak
10 – 15 % Protein
Sedangkan kebutuhan kalorinya berbeda beda tiap kegiatan, semakin berat tingkat aktivitasnya semakin banyak kebutuhan kalorinya. Berikut kebutuhan kalori beberapa kegiatan alam bebas.
Asumsi berat badan 70 kg.Jenis Kegiatan Kebutuhan kalori per jam (kal)
Panjat Tebing 770
Rappelling 560
Hiking (backpacking) 420
Naik gunung dengan beban 21 kg 630
Naik tangga dengan beban 37 kg 840
Dengan dasar informasi diatas menu makanan dan banyaknya harus dibawa dapat diprediksikan untuk mendukung keefektifan operasional.
Contoh Perhitungan
Jenis kegiatan mendaki gunung, jumlah tim 4 orang, lama operasional 4 hari, rata-rata berat badan 65 kg, berat barang bawaan tiap orang rata-rata 25 kg (peralatan,perlengkapan,logistik,dll).
Jumlah berat badan = 65 x 4 = 260 kg
Jumlah energi total per hari
Lama berkegiatan 1 hari efektif berkegiatan 8 jam
Jumlah energi yang dibutuhkan untuk naik gunung dengan beban 25 kg 650 kal/jam (pendekatan)
Jumlah energi total per hari = 8 x 4 x 650 = 20800 kalori
Jumlah protein per hari
Kalori dari protein = 15% x 20800 = 3120 kalori
Protein 1 gram = 4 kalori
Jumlah protein = 3120 : 4 = 780 gram
Jumlah lemak per hari
Kalori dari lemak = 10% x 20800 = 2080 kalori
Lemak 1 gram = 9 kalori
Jumlah lemak = 2080 : 9 = 232 gram
Jumlah karbohidrat per hari
Kalori dari karbohidrat = 60% x 20800 = 12480 kalori
Karbohidrat 1 gram = 4 kalori
Jumlah karbohidrat = 12480 : 4 = 3120 gram
Tentukan menu menurut selera dan sesuai perhitungan diatas agar barang bawaan efektif dan efisien, jangan lupa prediksi bahan makanan cadangan
Prinsip dan Tujuan PPGD
1. Menyelamatkan kehidupan
2. mencegah keadaan menjadi lebih buruk
3. mempercepat kesembuhan
POKOK-POKOK P3K
1. Jangan panik bukan berarti lamban dalam bertindak, tetapi tetap tenang sehingga dapat bekerja secara efektif.
2. Perhatikan pernafasan korban, langkah-langkah yang harus dilakukan :
o bebaskan jalan pernafasan
o berikan nafas buatan bila korban tidak bernafas
o lakukan resusi jantung dan paru-paru jika denyut nadi tidak ada
3. Hentikan perdarahan yang terjadi dengan jalan tekan kuat-kuat tempat perdarahan dengan kasa dan sapu tangan lalu ikat. Letakkan bagian yang mengalami pendarahan lebih tinggi dari bagian yang lain. Bila perlu ikat dengan torniquet.
4. Perhatikan tanda-tanda shock dan patah tulang.
5. Jangan berikan makanan dan minuman pada korban yang tak sadar.
6. Jangan terburu-buru memindahkan korban kecuali bila keadaan korban tidak memungkinkan ( korban kebakaran ).
Obat dan Peralatan
1. Obat-obatan
o Obat penghilang rasa sakit dan demam seperti aspirin, paracetamol, dll
o Obat sakit perut seperti new diatab, oralit, trisulfa, dll
o Obat keracunan seperti Norit
o Obat anti alergi seperti CTM
o Obat anti malaria seperti pil kina
o Obat flu dan batuk
o Obat tetes mata
o Alkohol
o Salep luka bakar
o Obat gosok seperti balsam, minyak kayu putih
o Krim pelindung kulit seperti Pabanox, Sunscream
o Krim anti memar seperti trombophop
o Chlor ethyl spray
o Obat luka baru seperti Bethadine
o Dll
2. Peralatan
Buku petunjuk P3K
Mitella (pembalut segitiga)
Plester
Kasa steril dan kapas
Perban
Gunting, pinset, pisau kecil
Cotton bud, jarum kecil dan peniti
Lampu senter
Dll
MENGATASI HENTI NAPAS DAN HENTI JANTUNG
Ada beberapa kemungkinan mengapa orang tidak bernafas:
1. Jalan nafas tersumbat misal karena muntah dan pendarahan
2. Jalan napas membengkak misal karena keracunan gas
3. Kelumpuhan alat pernapasan msal karena terkena aliran listrik atau keracunan
Cara mengatasinya adalah :
1. Bebaskan jalan napas. Baringkan korban telentang, kepala dimiringkan, buka mulut dan ambil sumbatan yang ada didalamnya dengan 2 jari.
2. Buka jalan napas yang selebar-lebarnya dengan cara mendorong dahi ke belakang sehingga posisi leher menjadi lurus atau dengan memberi bantalan di bawah bahu tetapi jangan dibawah kepala karena leher akan tertekuk.
3. Berikan napas buatan dari mulut ke mulut. Buka mulut kita lebar lebar dan tempelkan pada mulut korban, pijit hidung korban dan hembuskan napas ke dalam saluran napas penderita bila dada korban mengembang berarti udara telah mencapai rongga paruparu, lepaskan bibir anda supaya terjadi pelepasan udara secara pasif dari paru-paru. Lakukan hal serupa sampai 12 kali untuk orang dewasa dan 20 kali untuk anak-anak.
Cara resusi jantung dan paru-paru :
1. Baringkan korban telentang dengan alas datar dan cukup keras, dorong dahi ke atas sehingga leher menjadi lurus.
2. Cari ujung dada iga bagian depan (2 jari diatas ujung dada) lakukan pijat jantung.
3. Letakkan pangkal telapak tangan di daerah tersebut dan telapak tangan yang lain menumpang pada tangan utama tetapi siku dalam kondisi lurus, tekan secara menghentak dan kendurkan secara perlahan-lahan.
4. Ulangi cara tersebut sampai korban bernapas.
5. Hal itu harus kita kombinaikan dengan pernapasan buatan dengan komposisi 2 kali napas buatan kemudian 15 kali pijat jantung.
GANGGUAN UMUM
Adalah terganggunya fungsi seluruh tubuh akibat suatu kecelakaan.
Macam gangguan umum :
1. Lena
Penyebab berkurangnya peredaran darah ke otak yang disebabkan oleh emosi yang hebat, rasa nyeri, keadaan lemah setelah sakit, terlampau banyak mengeluarkan tenaga dalam kondisi perut kosong,
Gejala yang timbul pada korban seperti :
Pusing, telinga berdenging, mual, mata berkunang-kunang, keluar keringat dingin, dan denyut nadi lemah.
Pertolongan :
Tidurkan telentang korban dan kepala agak rendah, longgarkan pakaian dan usahakan korban menghirup udara segar. Kemudian beri selimut agar badan segar kembali. Setelah korban sadar dan dapat minum beri kopi hangat atau sedikit anggur.
2. Gugat ( Shock)
Disebabkan karena jumlah darah yang beredar dalam pembuluh darah sangat kurang dan merupakan kelanjutan dari lena.
Gejala yang timbul pada korban :
Seperti gejala pada lena, yang banyak disebabkan oleh pendarahan (ke luar maupun ke dalam) dan luka bakar yang cukup luas sehingga korban pingsan.
Pertolongan :
Baringkan korban di tempat yang segar udaranya dengan kepala lebih rendah dari kaki (kecuali jika ada luka di kepala), tenangkan korban dan hentikan pendarahan yang terjadi dan secepatnya dibawa ke Rumah sakit.
3. Pingsan
Kondisi dimana fungsi otak terganggu sedemikian rupa sehingga korban tidak sadarkan diri.
Gejala yang timbul :
Tidak menyahut jika dipanggil, tidak bereaksi saat diberi rangsangan, biasanya korban terbaring tidak bergerak tetapi pernapasan dan denyut nadi ada.
Pertolongan :
Baringkan korban di tempat teduh dan segar, miringkan kepala korban supaya korban muntah, longgarkan pakaiannya dan selimuti agar tidak kedinginan, dan scepatnya bawa korban ke RS untuk mendapat pertolongan lebih lanjut.
4. Mati Suri
Adalah keadaan lanjut dari pingsan dimana pernapasan tidak nampak, denyut nadi hilang, biji mata melebar dan tidak bereaksi terhadap penyinaran, muka pucat agak kebiruan.
Pertolongan :
Baringkan korban telentang, dan longgarkan pakaian korban; hilangkan segala barang yang dapat menyumbat pernapasan kemudian lakukan pernapasan buatan atau kalau perlu pijat jantung. Segera hubungi dokter untuk penanggulangan lebih
lanjut.
5. Penyakit Pegunungan
Sering disebut Mountain Sickness yang diakibatkan makin berkurangnya kadar oksigen pada daerah yang tinggi yang akan mempengaruhi aktivitas pendaki karena kekurangan suplai oksigen atau hipoksia.
Gejala :
Korban pusing, letih, rasa kantuk yang hebat, mual, pucat, sesak napas, kemudian tubuh menjadi panas, perasaan gelisah, telinga berdenging, dan sukar tidur.
Pertolongan :
Beri istirahat yang cukup sehari atau dua hari, bila tidak ada perubahan bawa korban ke tempat yang lebih rendah.
6. Gangguan Setempat
Adalah kecelakaan yang terasa sakit pada bagian tubuh yang terkena.
Macam gangguan setempat :
1. Luka
Dapat terjadi dimana saja dan disebabkan oleh benda tumpul atau tajam.
Macam-macam luka :
Luka iris
Luka tusuk
Luka memar
Luka robek
Pertolongan yang harus diberikan dengan menghentikan perdarahan mencegah infeksi dan kerusakan lebih lanjut dengan cara-cara yang mudah dan cepat.
2. Luka gigitan ular
Untuk jenis ulat Colubridae (ular belang, sendok/kobra), tanda-tanda gigitannya tidak begitu jelas tetapi langsung mempengaruhi susunan saraf. Biasanya disertai sesak napas dan luka gigitan udak terasa tetapi sangat mematikan.
Untuk jenis ular Viperidae (ular puspa, ular tanah), tanda-tandanya gigitannya akan menimbulkan bercak darah diseluruh tubuh disertai batuk dan kencing darah karena mempengaruhi sistemperedaran darah. Luka gigitannnya terasa nyeri dan bengkak.
Berdasarkan tipe gigi bisa, ular dikelompokkan menjadi 4 bagian, yaitu :
Aglypha : tidak mempunyai gigi bisa, seperti sanca
Phistoglypha : mempunyai gigi bisa dibelakang, misalnya ular cincin emas
Proteroglypha : mempunyai gigi bisa didepan yang efektif untuk menyalurkan bisa
Solenoglipha : mempunyai gigi bisa di depan dan dapat dilipat. Umumnya gigi bisa dapat dilipat.
Macam-macam bisa :
Neurotoksin : menyerang saraf dan bersifat bertentangan dengan transmisi jaringan syarag. Menybabkan kelumpuhan pada alat pernafasan dan rusaknya jeringan otak.
Hemotoksin : menyerang darah dan sistem peredarannya, menguraikan protein, menyebabkan sel darah rusak.
Kardiotoksin : menyerang otot jantung
Miktotoksin : menyerang cairan tubuh
Pertolongan :
Baringkan korban, letakkan bagian yang digigit lebih rendah dari jantung, kurangi aktivitas korban untuk mencegah penyebaran bisa. Kenakan torniquet di atas luka gigitan dan kendurkan 15 sampai 30 detik, perbesar luka gigitan dengan pisau steril dan isap luka untuk mengeluarkan bisa dari darah (mulut penolong tidak boleh ada luka). Tutup luka dengan kasa steril dan beri betadine kemudian dibalut. Bawa ke RS terdekat. Khusus luka gigitan serangga (kalajengking, kelabang, laba-laba, dll) pertolongan yang dilakukan adalah :
Olesi luka dengan amonia atau kapur sirih, kompres dengan es atau soda kue (untuk gigitan kalajengking) dan cuci dengan anti septik. Oleskan balsam/obat gosok untuk mengurangi rasa sakit dan segera dibawa ke RS.
Jika kita mengamati dengan teliti, ada beberapa hal yang dapat membedakan ular yang berbisa tinggi dan berbisa rendah. Beberapa ciri dibawah adalah petunjuk umum yang bisa digunakan, meskipun belum secara tepat menunjukkan tingkatan bisa ular.
a. Ular berbisa rendah
§ Gerakannya cepat, takut pada musuh, agresif
§ Beraktifitas pada siang hari (diurnal)
§ Membunuh mangsanya dengan membelit
§ Bentuk kepalanya bulat telur (oval)
§ Tidak memiliki taring bisa
§ Gigitannya tidak mematikan
§ Setelah menggigit langsung lari
b. Ular berbisa tinggi
§ Gerakannya lambat, tenang, penuh percaya diri
§ Beraktifitas pada malam hari (nocturnal)
§ Membunuh mangsanya dengan menyuntikkan bisa
§ Bentuk kepalanya cenderung segitiga sempurna
§ Memiliki taring bisa, racun mematikan
§ Kanibal
§ Setelah menggigit, masih tinggal ditempat
c. Pengecualian
Berikut ini yang tidak sesuai dengan ketentuan
- berbisa tinggi, tetapi kepalanya oval (bulat telur), agresif, keluar siang, malam :
1. Ular King Kobra – Ophiophagus hannah , kepala oval, agresif, siang dan malam
2. Ular Kobra Naja naja sputratix, berbisa tinggi, tetapi kepala oval, gerakan tenang
3. Ular weling – Bungarus candidus, kepala oval, berbisa tinggi
4. Ular welang – Bungarus fasciatus, kepala oval, gerakan tenang, berbisa tinggi
5. Ular picung/pudak seruni – berbisa tinggi, kepala oval tapi gerakannya gesit, keluar siang hari.
6. Semua jenis ular laut, berbisa, gerakan lamban di pasir/pantai
7. Semua jenis ular phyton dan ular boa, tidak berbisa, cari makan malam hari.
3. Sengatan Binatang
Pertolongan :
Ambil sengat yang tertinggal, cuci bekas sengatan dengan air garam kemudian air hangat beberapa kali. Untuk ubur-ubur dengan alkohol, amoniak atau dengan aseton. Oleskan obat gosok untuk mengurangi rasa sakit.
4. Patah tulang
Macam patah tulang : terbuka (tulang menonjol keluar dan berhubungan langsung dengan udara luar) dan tertutup.
Tanda-tanda patah tulang : sakit pada bagian yang patah bila tersentuh atau digerakkan, tidak bisa digerakkan, sekitar luka bengkak dan kebiruan atau tulang mencuat keluar.
Pertolongan :
Pada luka tertutup tidak perlu membuka pakaian yang menutupi seperti pada patah tulang terbuka. Bila terjadi perdarahan lakukan perawatan, lakukan pembidaian yang ditentukan, dan segera bawa ke RS.
Syarat pembidaian :
Panjang bidai cukup untuk luka
Bidai harus pipih, lembut, dan empuk
Ikatan cukup jumlahnya dan tidak terlalu ketat atau longgar
Ikatan dilakukan pada atas dan bawah luka
5. Pendarahan
Cara menghentikan pendarahan :
o Tekan ditempat pendarahan dengan setumpuk kasa steril atau kain bersih dilipat tebal, tutup daerah luka dan tekan, segera bawa ke RS. Selama itu angkat bagian yang terluka lebih tinggi dari letak jantung.
o Tekan pada tempat-tempat tertentu, seperti pangkal pembuluh nadi yang terluka.
o Tekan dengan torniquet. Torniquet adalah balutan yang menjepit sehingga aliran darah dibawahnya terhenti. Caranya :
a. Buat ikatan pada anggota tubuh yang cidera
b. Selipkan batang kayu dibawah ikatan tersebut
c. Kencangkan dengan memutar kayu tersebut
d. Agar kedudukan kayu tidak berubah, ikat ujung satunya
Torniquet hanya dilakukan pada luka pendarahan hebat, kendurkan selama 30 detik tiap 10 menit.
6. Terkilir
Disebabkan adanya hentakan yang keras terhadap sebuah sendi dengan arah yang salah sehingga jaringan pengikat antara tulang rusak dan menimbulkan pendarahan yang menggumpal dibawah kulit, menyebabkan pembengkakan.
Pertolongan :
Kompres bagian yang terluka dengan es selama 30 menit dan balut dengan pembalut elastis atau mitella.
7. Keracunan
Racun yang ditelan
a. Makanan. Tindakan utama adalah dengan mengusahakan makanan yang ditelan keluar dengan menekan langit-langit tenggorokannya dengan jari. Kemudian beri norit atau arang yang telah ditumbuk dan dilarutkan ke air.
b. Alkohol. Usahakan agar muntah dan bilas lambung dengan soda kue (1 sendok teh dalam segelas air) tiap jam. Dapat pula diberikan kopi pekat.
c. Obat. Usahakan korban muntah dan beri kopi pekat. Bilas lambung dengan usu atau soda kue, rangsang supaya korban muntah. Bila racun termakan lebih dari 3 jam pembilasan lambung tidak boleh dilakukan apabila racunnya bersifat korosif seperti korosif sepert asam, basa keras, bensin dan minyak tanah.
Racun yang terisap
Pertolongannya : singkirkan korban dari tempat keracunan ke tempat berudara segar dan berikan pernapasan buatan.
Racun melalui kulit
Pertolongannya : lepas pakaian yang terkena racun dan bilas kulit dengan air mengalir.
Teknik membalut dan evakuasi
1. Teknik membalut
o Membalut dengan mitella
Mitella terbuat dari kain yang berbentuk segitiga sama kaki dengan panjang 90 cm.
Membalut dengan Pembalut Pita
Cara-cara membalut dengan Pembalut Pita lihat gambar (lampiran)
2. Teknik Evakuasi
o Jarak dekat
Apabila korban tidak menunjukkan tanda-tanda patah tulang leher, tulang belakang, tulang tengkorak, dan gegar otak; maka korban dapat ditarik.
Melalui lorong sempit
Apabila korban pingsan dan harus kita bawa keluar dari terowong atau lorong, ikat tangan korban dan gantungkan pada leher penolong, penolong merangkak.
Dengan selimut :
Digunakan untuk mengusung korban yang pingsan sebagai ganti tandu.
Korban yang sadar tetapi tidak bisa jalan sendiri dapat kita usung.
Korban yang memerlukan sedikit bantuan karena korban mampu berjalan sendiri sehingga tidak memerlukan bantuan.
Menggunakan tandu.
DAFTAR PUSTAKA
Diktat Pendidikan Dasar Astacala. Diakses pada http://astacala.org/astacala/diktat.pdf tanggal 11 Oktober 2008.
Rahmanta, Amsi. 2008. PPGD. Diakses pada http://mapalamahesa.multiply.com/journal/item/20/PPGD tanggal 15 Oktober 2008.
Serpiente Snakes. Biologi Ular. Diakses pada http://serpientesnakes.wordpress.com/save-our-snakes/biologi-ular/ tanggal 15 Oktober 2008.
Sioux. 2008. Tips : Membedakan Jenis Ular Berdasarkan Kemampuan Bisa (Racun). Diakses pada http://siouxindonesia.multiply.com/journal tanggal 15 Oktober 2008.
 dan perlengkapan, fisik dan kesegaran jasmani membutuhkan persiapan yang tak kalah pentingnya. Fisik yang baik tidak bisa dicapai dalam waktu yang singkat tetapi harus dengan latihan yang teratur dan kontinyu. Dasar yang paling penting bagi pendaki gunung adalah tenaga aerobik, sebab kegiatannya sangat dipengaruhi oleh suplai oksigen melalui peredaran darah ke otot-otot badan. Oleh karena itu harus dilakukan latihan-latihan aerobik secara teratur seperti lari atau bersepeda. Selain aerobik, kekuatan dan ketahanan otot juga perlu dilatih. Otot-otot itu adalah otot bahu, punggung, pinggang, dan kaki. Hal ini dapat dilatih dengan menggunakan beban seperti mengangkat barbel dan sejenisnya.
2. Persiapan Mental
Meskipun mental seseorang akan terbentuk dengan sendirinya dan sudah bawaan lahir, tetapi pengembangannya dapat dilakukan secara perlahan-lahan dalam waktu yang panjang, yang salah satunya dengan meningkatkan latihan fisik. Keseimbangan antara faktor fisik dan mental harus selalu kita usahakan baik dalam perjalanan maupun kehidupan sehari-hari. Khusus untuk alam bebas kita harus percaya pada kemampuan kita untuk menangani segala hal. Motivasi yang baik dapat juga meningkatkan mental. Mendorong motivasi seseorang merupakan hal yang cukup susah, karena kita harus tahu segala hal mengenai pribadi, pembawaan, sifat dan kegemaran orang tersebut. Hal ini harus kita lakukan secara hati-hati dan perlahan-lahan sehingga tidak menyinggung perasaan yang menimbulkan antipati dan mematikan motivasi.
3. Daya Tahan Tubuh
Daya tahan tubuh ini sangat dipengaruhi beberapa faktor antara lain :
a. Kebutuhan oksigen
Oksigen merupakan komponen yang sangat penting bagi proses penyediaan energi dalam tubuh yang diolah dari makanan. Seringkali harus kita lakukan aklimatisasi untuk menyesuaikan kemampuan tubuh dengan kadar oksigen disuatu tempat.
Kebutuhan cairan
Dalam kondisi normal manusia tidak dapat hidup tanpa air. Manusia dapat hidup 3 hari tanpa air, tetapi dapat pula mencapai 8 hari dalam suhu 20 sampai 30 derajat.
Makanan
Untuk aktifitas alam terbuka jumlah kalori yang diperlukan seseorang adalah 2500 s/d 3500 kalori per hari. Sumber makanan yang dapat kita peroleh untuk kondisi di atas adalah karbohidrat, lemak, dan protein; dengan komposisi 75% karbohidrat dan 25% lemak.
Suhu lingkungan
Suhu lingkungan sangat mempengaruhi daya taha tubuh, karena akan berpengaruh langsung pada kondisi tubuh yang akan dapat menyebabkan kematian pada suhu dingin dan kejang-panas atau kematian pada suhu panas. Suhu tubuh manusia lebih mudah menyesuaikan pada suhu panas daripada suhu dingin, karena suhu lingkungan yang rendah mengakibatkan kalori yang diperlukan oleh tubuh lebih besar untuk mempertahankan suhu tubuh tetap normal.
Perhitungan Kalori dalam Persiapan Perjalanan
Penentuan menu bahan makanan bukanlah hal yang bisa disepelekan bila melakukan kegiatan di alam bebas dalam jangka waktu lama (>4 hari). Karena bahan yang kita bawa akanlangsung mempengaruhi keefektifan kita berkegiatan dan juga gizi yang diperlukan tubuh kita.
Nutrisi yang diperlukan tubuh per hari :
65 % Karbohidrat (HA)
20 % Lemak
10 – 15 % Protein
Sedangkan kebutuhan kalorinya berbeda beda tiap kegiatan, semakin berat tingkat aktivitasnya semakin banyak kebutuhan kalorinya. Berikut kebutuhan kalori beberapa kegiatan alam bebas.
Asumsi berat badan 70 kg.Jenis Kegiatan Kebutuhan kalori per jam (kal)
Panjat Tebing 770
Rappelling 560
Hiking (backpacking) 420
Naik gunung dengan beban 21 kg 630
Naik tangga dengan beban 37 kg 840
Dengan dasar informasi diatas menu makanan dan banyaknya harus dibawa dapat diprediksikan untuk mendukung keefektifan operasional.
Contoh Perhitungan
Jenis kegiatan mendaki gunung, jumlah tim 4 orang, lama operasional 4 hari, rata-rata berat badan 65 kg, berat barang bawaan tiap orang rata-rata 25 kg (peralatan,perlengkapan,logistik,dll).
Jumlah berat badan = 65 x 4 = 260 kg
Jumlah energi total per hari
Lama berkegiatan 1 hari efektif berkegiatan 8 jam
Jumlah energi yang dibutuhkan untuk naik gunung dengan beban 25 kg 650 kal/jam (pendekatan)
Jumlah energi total per hari = 8 x 4 x 650 = 20800 kalori
Jumlah protein per hari
Kalori dari protein = 15% x 20800 = 3120 kalori
Protein 1 gram = 4 kalori
Jumlah protein = 3120 : 4 = 780 gram
Jumlah lemak per hari
Kalori dari lemak = 10% x 20800 = 2080 kalori
Lemak 1 gram = 9 kalori
Jumlah lemak = 2080 : 9 = 232 gram
Jumlah karbohidrat per hari
Kalori dari karbohidrat = 60% x 20800 = 12480 kalori
Karbohidrat 1 gram = 4 kalori
Jumlah karbohidrat = 12480 : 4 = 3120 gram
Tentukan menu menurut selera dan sesuai perhitungan diatas agar barang bawaan efektif dan efisien, jangan lupa prediksi bahan makanan cadangan
Prinsip dan Tujuan PPGD
1. Menyelamatkan kehidupan
2. mencegah keadaan menjadi lebih buruk
3. mempercepat kesembuhan
POKOK-POKOK P3K
1. Jangan panik bukan berarti lamban dalam bertindak, tetapi tetap tenang sehingga dapat bekerja secara efektif.
2. Perhatikan pernafasan korban, langkah-langkah yang harus dilakukan :
o bebaskan jalan pernafasan
o berikan nafas buatan bila korban tidak bernafas
o lakukan resusi jantung dan paru-paru jika denyut nadi tidak ada
3. Hentikan perdarahan yang terjadi dengan jalan tekan kuat-kuat tempat perdarahan dengan kasa dan sapu tangan lalu ikat. Letakkan bagian yang mengalami pendarahan lebih tinggi dari bagian yang lain. Bila perlu ikat dengan torniquet.
4. Perhatikan tanda-tanda shock dan patah tulang.
5. Jangan berikan makanan dan minuman pada korban yang tak sadar.
6. Jangan terburu-buru memindahkan korban kecuali bila keadaan korban tidak memungkinkan ( korban kebakaran ).
Obat dan Peralatan
1. Obat-obatan
o Obat penghilang rasa sakit dan demam seperti aspirin, paracetamol, dll
o Obat sakit perut seperti new diatab, oralit, trisulfa, dll
o Obat keracunan seperti Norit
o Obat anti alergi seperti CTM
o Obat anti malaria seperti pil kina
o Obat flu dan batuk
o Obat tetes mata
o Alkohol
o Salep luka bakar
o Obat gosok seperti balsam, minyak kayu putih
o Krim pelindung kulit seperti Pabanox, Sunscream
o Krim anti memar seperti trombophop
o Chlor ethyl spray
o Obat luka baru seperti Bethadine
o Dll
2. Peralatan
Buku petunjuk P3K
Mitella (pembalut segitiga)
Plester
Kasa steril dan kapas
Perban
Gunting, pinset, pisau kecil
Cotton bud, jarum kecil dan peniti
Lampu senter
Dll
MENGATASI HENTI NAPAS DAN HENTI JANTUNG
Ada beberapa kemungkinan mengapa orang tidak bernafas:
1. Jalan nafas tersumbat misal karena muntah dan pendarahan
2. Jalan napas membengkak misal karena keracunan gas
3. Kelumpuhan alat pernapasan msal karena terkena aliran listrik atau keracunan
Cara mengatasinya adalah :
1. Bebaskan jalan napas. Baringkan korban telentang, kepala dimiringkan, buka mulut dan ambil sumbatan yang ada didalamnya dengan 2 jari.
2. Buka jalan napas yang selebar-lebarnya dengan cara mendorong dahi ke belakang sehingga posisi leher menjadi lurus atau dengan memberi bantalan di bawah bahu tetapi jangan dibawah kepala karena leher akan tertekuk.
3. Berikan napas buatan dari mulut ke mulut. Buka mulut kita lebar lebar dan tempelkan pada mulut korban, pijit hidung korban dan hembuskan napas ke dalam saluran napas penderita bila dada korban mengembang berarti udara telah mencapai rongga paruparu, lepaskan bibir anda supaya terjadi pelepasan udara secara pasif dari paru-paru. Lakukan hal serupa sampai 12 kali untuk orang dewasa dan 20 kali untuk anak-anak.
Cara resusi jantung dan paru-paru :
1. Baringkan korban telentang dengan alas datar dan cukup keras, dorong dahi ke atas sehingga leher menjadi lurus.
2. Cari ujung dada iga bagian depan (2 jari diatas ujung dada) lakukan pijat jantung.
3. Letakkan pangkal telapak tangan di daerah tersebut dan telapak tangan yang lain menumpang pada tangan utama tetapi siku dalam kondisi lurus, tekan secara menghentak dan kendurkan secara perlahan-lahan.
4. Ulangi cara tersebut sampai korban bernapas.
5. Hal itu harus kita kombinaikan dengan pernapasan buatan dengan komposisi 2 kali napas buatan kemudian 15 kali pijat jantung.
GANGGUAN UMUM
Adalah terganggunya fungsi seluruh tubuh akibat suatu kecelakaan.
Macam gangguan umum :
1. Lena
Penyebab berkurangnya peredaran darah ke otak yang disebabkan oleh emosi yang hebat, rasa nyeri, keadaan lemah setelah sakit, terlampau banyak mengeluarkan tenaga dalam kondisi perut kosong,
Gejala yang timbul pada korban seperti :
Pusing, telinga berdenging, mual, mata berkunang-kunang, keluar keringat dingin, dan denyut nadi lemah.
Pertolongan :
Tidurkan telentang korban dan kepala agak rendah, longgarkan pakaian dan usahakan korban menghirup udara segar. Kemudian beri selimut agar badan segar kembali. Setelah korban sadar dan dapat minum beri kopi hangat atau sedikit anggur.
2. Gugat ( Shock)
Disebabkan karena jumlah darah yang beredar dalam pembuluh darah sangat kurang dan merupakan kelanjutan dari lena.
Gejala yang timbul pada korban :
Seperti gejala pada lena, yang banyak disebabkan oleh pendarahan (ke luar maupun ke dalam) dan luka bakar yang cukup luas sehingga korban pingsan.
Pertolongan :
Baringkan korban di tempat yang segar udaranya dengan kepala lebih rendah dari kaki (kecuali jika ada luka di kepala), tenangkan korban dan hentikan pendarahan yang terjadi dan secepatnya dibawa ke Rumah sakit.
3. Pingsan
Kondisi dimana fungsi otak terganggu sedemikian rupa sehingga korban tidak sadarkan diri.
Gejala yang timbul :
Tidak menyahut jika dipanggil, tidak bereaksi saat diberi rangsangan, biasanya korban terbaring tidak bergerak tetapi pernapasan dan denyut nadi ada.
Pertolongan :
Baringkan korban di tempat teduh dan segar, miringkan kepala korban supaya korban muntah, longgarkan pakaiannya dan selimuti agar tidak kedinginan, dan scepatnya bawa korban ke RS untuk mendapat pertolongan lebih lanjut.
4. Mati Suri
Adalah keadaan lanjut dari pingsan dimana pernapasan tidak nampak, denyut nadi hilang, biji mata melebar dan tidak bereaksi terhadap penyinaran, muka pucat agak kebiruan.
Pertolongan :
Baringkan korban telentang, dan longgarkan pakaian korban; hilangkan segala barang yang dapat menyumbat pernapasan kemudian lakukan pernapasan buatan atau kalau perlu pijat jantung. Segera hubungi dokter untuk penanggulangan lebih
lanjut.
5. Penyakit Pegunungan
Sering disebut Mountain Sickness yang diakibatkan makin berkurangnya kadar oksigen pada daerah yang tinggi yang akan mempengaruhi aktivitas pendaki karena kekurangan suplai oksigen atau hipoksia.
Gejala :
Korban pusing, letih, rasa kantuk yang hebat, mual, pucat, sesak napas, kemudian tubuh menjadi panas, perasaan gelisah, telinga berdenging, dan sukar tidur.
Pertolongan :
Beri istirahat yang cukup sehari atau dua hari, bila tidak ada perubahan bawa korban ke tempat yang lebih rendah.
6. Gangguan Setempat
Adalah kecelakaan yang terasa sakit pada bagian tubuh yang terkena.
Macam gangguan setempat :
1. Luka
Dapat terjadi dimana saja dan disebabkan oleh benda tumpul atau tajam.
Macam-macam luka :
Luka iris
Luka tusuk
Luka memar
Luka robek
Pertolongan yang harus diberikan dengan menghentikan perdarahan mencegah infeksi dan kerusakan lebih lanjut dengan cara-cara yang mudah dan cepat.
2. Luka gigitan ular
Untuk jenis ulat Colubridae (ular belang, sendok/kobra), tanda-tanda gigitannya tidak begitu jelas tetapi langsung mempengaruhi susunan saraf. Biasanya disertai sesak napas dan luka gigitan udak terasa tetapi sangat mematikan.
Untuk jenis ular Viperidae (ular puspa, ular tanah), tanda-tandanya gigitannya akan menimbulkan bercak darah diseluruh tubuh disertai batuk dan kencing darah karena mempengaruhi sistemperedaran darah. Luka gigitannnya terasa nyeri dan bengkak.
Berdasarkan tipe gigi bisa, ular dikelompokkan menjadi 4 bagian, yaitu :
Aglypha : tidak mempunyai gigi bisa, seperti sanca
Phistoglypha : mempunyai gigi bisa dibelakang, misalnya ular cincin emas
Proteroglypha : mempunyai gigi bisa didepan yang efektif untuk menyalurkan bisa
Solenoglipha : mempunyai gigi bisa di depan dan dapat dilipat. Umumnya gigi bisa dapat dilipat.
Macam-macam bisa :
Neurotoksin : menyerang saraf dan bersifat bertentangan dengan transmisi jaringan syarag. Menybabkan kelumpuhan pada alat pernafasan dan rusaknya jeringan otak.
Hemotoksin : menyerang darah dan sistem peredarannya, menguraikan protein, menyebabkan sel darah rusak.
Kardiotoksin : menyerang otot jantung
Miktotoksin : menyerang cairan tubuh
Pertolongan :
Baringkan korban, letakkan bagian yang digigit lebih rendah dari jantung, kurangi aktivitas korban untuk mencegah penyebaran bisa. Kenakan torniquet di atas luka gigitan dan kendurkan 15 sampai 30 detik, perbesar luka gigitan dengan pisau steril dan isap luka untuk mengeluarkan bisa dari darah (mulut penolong tidak boleh ada luka). Tutup luka dengan kasa steril dan beri betadine kemudian dibalut. Bawa ke RS terdekat. Khusus luka gigitan serangga (kalajengking, kelabang, laba-laba, dll) pertolongan yang dilakukan adalah :
Olesi luka dengan amonia atau kapur sirih, kompres dengan es atau soda kue (untuk gigitan kalajengking) dan cuci dengan anti septik. Oleskan balsam/obat gosok untuk mengurangi rasa sakit dan segera dibawa ke RS.
Jika kita mengamati dengan teliti, ada beberapa hal yang dapat membedakan ular yang berbisa tinggi dan berbisa rendah. Beberapa ciri dibawah adalah petunjuk umum yang bisa digunakan, meskipun belum secara tepat menunjukkan tingkatan bisa ular.
a. Ular berbisa rendah
§ Gerakannya cepat, takut pada musuh, agresif
§ Beraktifitas pada siang hari (diurnal)
§ Membunuh mangsanya dengan membelit
§ Bentuk kepalanya bulat telur (oval)
§ Tidak memiliki taring bisa
§ Gigitannya tidak mematikan
§ Setelah menggigit langsung lari
b. Ular berbisa tinggi
§ Gerakannya lambat, tenang, penuh percaya diri
§ Beraktifitas pada malam hari (nocturnal)
§ Membunuh mangsanya dengan menyuntikkan bisa
§ Bentuk kepalanya cenderung segitiga sempurna
§ Memiliki taring bisa, racun mematikan
§ Kanibal
§ Setelah menggigit, masih tinggal ditempat
c. Pengecualian
Berikut ini yang tidak sesuai dengan ketentuan
- berbisa tinggi, tetapi kepalanya oval (bulat telur), agresif, keluar siang, malam :
1. Ular King Kobra – Ophiophagus hannah , kepala oval, agresif, siang dan malam
2. Ular Kobra Naja naja sputratix, berbisa tinggi, tetapi kepala oval, gerakan tenang
3. Ular weling – Bungarus candidus, kepala oval, berbisa tinggi
4. Ular welang – Bungarus fasciatus, kepala oval, gerakan tenang, berbisa tinggi
5. Ular picung/pudak seruni – berbisa tinggi, kepala oval tapi gerakannya gesit, keluar siang hari.
6. Semua jenis ular laut, berbisa, gerakan lamban di pasir/pantai
7. Semua jenis ular phyton dan ular boa, tidak berbisa, cari makan malam hari.
3. Sengatan Binatang
Pertolongan :
Ambil sengat yang tertinggal, cuci bekas sengatan dengan air garam kemudian air hangat beberapa kali. Untuk ubur-ubur dengan alkohol, amoniak atau dengan aseton. Oleskan obat gosok untuk mengurangi rasa sakit.
4. Patah tulang
Macam patah tulang : terbuka (tulang menonjol keluar dan berhubungan langsung dengan udara luar) dan tertutup.
Tanda-tanda patah tulang : sakit pada bagian yang patah bila tersentuh atau digerakkan, tidak bisa digerakkan, sekitar luka bengkak dan kebiruan atau tulang mencuat keluar.
Pertolongan :
Pada luka tertutup tidak perlu membuka pakaian yang menutupi seperti pada patah tulang terbuka. Bila terjadi perdarahan lakukan perawatan, lakukan pembidaian yang ditentukan, dan segera bawa ke RS.
Syarat pembidaian :
Panjang bidai cukup untuk luka
Bidai harus pipih, lembut, dan empuk
Ikatan cukup jumlahnya dan tidak terlalu ketat atau longgar
Ikatan dilakukan pada atas dan bawah luka
5. Pendarahan
Cara menghentikan pendarahan :
o Tekan ditempat pendarahan dengan setumpuk kasa steril atau kain bersih dilipat tebal, tutup daerah luka dan tekan, segera bawa ke RS. Selama itu angkat bagian yang terluka lebih tinggi dari letak jantung.
o Tekan pada tempat-tempat tertentu, seperti pangkal pembuluh nadi yang terluka.
o Tekan dengan torniquet. Torniquet adalah balutan yang menjepit sehingga aliran darah dibawahnya terhenti. Caranya :
a. Buat ikatan pada anggota tubuh yang cidera
b. Selipkan batang kayu dibawah ikatan tersebut
c. Kencangkan dengan memutar kayu tersebut
d. Agar kedudukan kayu tidak berubah, ikat ujung satunya
Torniquet hanya dilakukan pada luka pendarahan hebat, kendurkan selama 30 detik tiap 10 menit.
6. Terkilir
Disebabkan adanya hentakan yang keras terhadap sebuah sendi dengan arah yang salah sehingga jaringan pengikat antara tulang rusak dan menimbulkan pendarahan yang menggumpal dibawah kulit, menyebabkan pembengkakan.
Pertolongan :
Kompres bagian yang terluka dengan es selama 30 menit dan balut dengan pembalut elastis atau mitella.
7. Keracunan
Racun yang ditelan
a. Makanan. Tindakan utama adalah dengan mengusahakan makanan yang ditelan keluar dengan menekan langit-langit tenggorokannya dengan jari. Kemudian beri norit atau arang yang telah ditumbuk dan dilarutkan ke air.
b. Alkohol. Usahakan agar muntah dan bilas lambung dengan soda kue (1 sendok teh dalam segelas air) tiap jam. Dapat pula diberikan kopi pekat.
c. Obat. Usahakan korban muntah dan beri kopi pekat. Bilas lambung dengan usu atau soda kue, rangsang supaya korban muntah. Bila racun termakan lebih dari 3 jam pembilasan lambung tidak boleh dilakukan apabila racunnya bersifat korosif seperti korosif sepert asam, basa keras, bensin dan minyak tanah.
Racun yang terisap
Pertolongannya : singkirkan korban dari tempat keracunan ke tempat berudara segar dan berikan pernapasan buatan.
Racun melalui kulit
Pertolongannya : lepas pakaian yang terkena racun dan bilas kulit dengan air mengalir.
Teknik membalut dan evakuasi
1. Teknik membalut
o Membalut dengan mitella
Mitella terbuat dari kain yang berbentuk segitiga sama kaki dengan panjang 90 cm.
Membalut dengan Pembalut Pita
Cara-cara membalut dengan Pembalut Pita lihat gambar (lampiran)
2. Teknik Evakuasi
o Jarak dekat
Apabila korban tidak menunjukkan tanda-tanda patah tulang leher, tulang belakang, tulang tengkorak, dan gegar otak; maka korban dapat ditarik.
Melalui lorong sempit
Apabila korban pingsan dan harus kita bawa keluar dari terowong atau lorong, ikat tangan korban dan gantungkan pada leher penolong, penolong merangkak.
Dengan selimut :
Digunakan untuk mengusung korban yang pingsan sebagai ganti tandu.
Korban yang sadar tetapi tidak bisa jalan sendiri dapat kita usung.
Korban yang memerlukan sedikit bantuan karena korban mampu berjalan sendiri sehingga tidak memerlukan bantuan.
Menggunakan tandu.
DAFTAR PUSTAKA
Diktat Pendidikan Dasar Astacala. Diakses pada http://astacala.org/astacala/diktat.pdf tanggal 11 Oktober 2008.
Rahmanta, Amsi. 2008. PPGD. Diakses pada http://mapalamahesa.multiply.com/journal/item/20/PPGD tanggal 15 Oktober 2008.
Serpiente Snakes. Biologi Ular. Diakseses/biologi-ular/ tanggal 15 Oktober 2008.
Sioux. 2008. Tips : Membedakan Jenis Ular Berdasarkan Kemampuan Bisa (Racun). Diakses pada http://siouxindonesia.multiply.com/journal tanggal 15 Oktober 2008.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar